Selasa, 29 Desember 2009
PENGERTIAN PENGINDERAAN JAUH
Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu suatu pengukuran atau perolehan data pada objek di permukaan bumi dari satelit atau instrumen lain di atas jauh dari objek yang diindera (Colwell, 1984).
Foto udara, citra satelit, dan citra radar adalah beberapa bentuk penginderaan jauh. Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu ilmu untuk mendapatkan informasi mengenai permukaan bumi seperti lahan dan air dari citra yang diperoleh dari jarak jauh (Campbell, 1987).
Hal ini biasanya berhubungan dengan pengukuran pantulan atau pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu objek.
GIS dan sistim pengelolaan informasi lingkungan saat ini merupakan alat utama yang digunakan di bidang kehutanan dan pengelolaan sumber daya alam. Bagaimanapun juga, para peneliti menghadapi banyak tantangan yang diantaranya berkaitan dengan skala, perubahan dinamik bentuk bentang alam, kelengkapan dan ketepatan data, efisiensi analisa dan penerapan alternatif dalam melakukan pemantauan status keanekaragaman hayati.
Workshop yang diselenggarakan pada tahun 1998 banyak menyoroti berbagai isu tersebut. Salah satunya adalah Konferensi Internasional yang sebagian dibiayai oleh CIFOR tentang Data Management and Modeling for Tropical Forest Inventory, berlangsung di Jakarta, Indonesia, pada bulan Oktober. Konferensi tersebut berusaha mencari solusi untuk meningkatkan kegiatan pemantauan dan penilaian hutan serta sumberdayanya, disamping memperbaiki model simulasi serta pengumpulan koleksi data yang digunakan dalam pengambilan keputusan tentang penggunaan lahan.
GIS dan teknologi lainnya menjadi fokus utama di banyak kegiatan penelitian CIFOR. Dalam salah satu penerapan temuan barunya, para peneliti di Humid Forest Zone, Kamerun, menggunakan GIS untuk lebih memahami karakteristik pasar hasil hutan non-kayu. Meskipun banyak kajian tentang pasar NTFP sering menyebutkan adanya beberapa karakteristik spatial yang mempengaruhi komersialisai NTFP seperti jarak, infrastruktur transportasi, jumlah populasi dan penyebaran hutan, tetapi hanya sedikit yang menggunakan GIS sebagai alat analisis. Penggunaan teknik ini memudahkan para peneliti CIFOR dan mitranya untuk lebih memahami struktrur spatial pasar dan dinamika perdagangan NTFP di kawasan yang dikaji – hal ini sangat bermanfaat jika lebih ditujukan pada penanganan intervensi kebijakan.
Demikian halnya dengan program baru penelitian NTFP di Kalimantan Timur, Indonesia yang dilakukan oleh CIFOR dan lembaga mitranya akan memperoleh manfaat dengan digunakannya GIS serta komponen analisa spasial yang diluncurkan pada tahun 1998.
GIS/kegiatan analisa spasial yang dibiayai oleh hibah dari Canadian International Development Agency (CIDA), akan mengukur serta memetakan perubahan penutupan hutan dan pemanfaatan lahan yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Hal ini diperlukan untuk menyusun kerangka kerja dalam rangka mendukung kajian tentang ketergantungan penduduk lokal pada perdagangan NTFP pada berbagai tingkatan perkembangan hutan.
HASIL TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DATA
1. Data penginderaan jauh dapat berupa data digital atau data numerik untuk dianalisis dengan menggunakan komputer
2. Selain itu, dapat berupa data visual yang pada umumnya dianalisis secara manual.
3. Data visual dibedakan lagi menjadi data citra dan noncitra.
4. Data citra merupakan gambaran planimetrik. Data noncitra ialah grafik yang mencerminkan beda suku yang direkam di sepanjang daerah penginderaan
5. Di dalam penginderaan jauh yang tidak menggunakan tenaga elektromagnetik, contoh data noncitra antara lain berupa grafik yang menggambarkan gravitasi ataupun daya magnetik di sepanjang daerah penginderaan. Jadi, jelaslah bahwa citra dapat dibedakan menjadi citra foto (photographic image) atau foto udara dan citra nonfoto (nonphotographic image). PENGERTIAN CITRA MENURUT BEBERAPA AHLI Citra merupakan gambaran yang terekam oleh kamera atau sensor lainnya (Hornby). Citra adalah gambaran objek yang dibuahkan oleh pantulan atau pembiasan sinar yang difokuskan dari sebuah lensa atau cermin (Simonett, 1983).
JENIS-JENIS CITRA
Citra foto Citra foto adalah gambaran yang dihasilkan dengan menggunakan sensor kamera. Citra foto dapat dibedakan berdasarkan atas spektrum elektromagnetik, sumber sensor, dan sistem wahana yang digunakan. Berdasarkan sistem wahana yang digunakan a. Foto udara adalah foto yang dibuat dari pesawat udara atau balon. b. Foto satelit atau foto orbital adalah foto yang dibuat dari satelit. Citra Non Foto Citra nonfoto adalah gambaran yang dihasilkan dengan menggunakan sensor bukan kamera.
PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH
BIDANG KEHUTANAN
Bidang kehutanan berkenaan dengan pengelolaan hutan untuk kayu termasuk perencanaan pengambilan hasil kayu, pemantauan penebangan dan penghutanan kembali, pengelolaan dan pencacahan margasatwa, inventarisasi dan pemantauan sumber daya hutan, rekreasi, dan pengawasan kebakaran. Kondisi fisik hutan sangat rentan terhadap bahaya kebakaran maka penggunaan citra inframerah akan sangat membantu dalam penyediaan data dan informasi dalam rangka monitoring perubahan temperatur secara kontinu dengan aspek geografis yang cukup memadai sehingga implementasi di lapangan dapat dilakukan dengan sangat mudah dan cepat.
BIDANG PENGGUNAAN LAHAN
Inventarisasi penggunaan lahan penting dilakukan untuk mengetahui apakah pemetaan lahan yang dilakukan oleh aktivitas manusia sesuai dengan potensi ataupun daya dukungnya. Penggunaan lahan yang sesuai memperoleh hasil yang baik, tetapi lambat laun hasil yang diperoleh akan menurun sejalan dengan menurunnya potensi dan daya dukung lahan tersebut. Integrasi teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu bentuk yang potensial dalam penyusunan arahan fungsi penggunaan lahan. Dasar penggunaan lahan dapat dikembangkan untuk berbagai kepentingan penelitian, perencanaan, dan pengembangan wilayah. Contohnya penggunaan lahan untuk usaha pertanian atau budidaya permukiman. BIDANG PEMBUATAN PETA Peta citra merupakan citra yang telah bereferensi geografis sehingga dapat dianggap sebagai peta. Informasi spasial yang disajikan dalam peta citra merupakan data raster yang bersumber dari hasil perekaman citra satelit sumber alam secara kontinu. Peta citra memberikan semua informasi yang terekam pada bumi tanpa adanya generalisasi. Peranan peta citra (space map) dimasa mendatang akan menjadi penting sebagai upaya untuk mempercepat ketersediaan dan penentuan kebutuhan peta dasar yang memang belum dapat meliput seluruh wilayah nasional pada skala global dengan informasi terbaru (up to date). Peta citra mempunyai keunggulan informasi terhadap peta biasa. Hal ini disebabkan karena citra merupakan gambaran nyata di permukaan bumi, sedangkan peta biasa dibuat berdasarkan generalisasi dan seleksi bentang alam ataupun buatan manusia. Contohnya peta dasar dan peta tanah.
BIDANG METEOROLOGI (METEOSAT, TIROS, DAN NOAA)
Manfaat penginderaan jauh di bidang meteorologi adalah sebagai berikut.
a. Mengamati iklim suatu daerah melalui pengamatan tingkat perawanan dan kandungan air dalam udara.
b. Membantu analisis cuaca dan peramalan/prediksi dengan cara menentukan daerah tekanan tinggi dan tekanan rendah serta daerah hujan badai dan siklon.
c. Mengamati sistem/pola angin permukaan.
d. Melakukan pemodelan meteorologi dan set data klimatologi.
BIDANG OSEANOGRAFI (SEASAT)
Manfaat penginderaan jauh di bidang oseanografi (kelautan) adalah sebagai berikut.
a. Mengamati sifat fisis laut, seperti suhu permukaan, arus permukaan, dan salinitas sinar tampak (0-200 m).
b. Mengamati pasang surut dan gelombang laut (tinggi, arah, dan frekwensi).
c. Mencari lokasi upwelling, singking dan distribusi suhu permukaan.
d. Melakukan studi perubahan pantai, erosi, dan sedimentasi (LANDSAT dan SPOT).
BIDANG HIDROLOGI (LANDSAT/ERS, SPOT)
Manfaat penginderaan jauh di bidang hidrologi adalah sebagai berikut. a. Pemantauan daerah aliran sungai dan konservasi sungai. b. Pemetaan sungai dan studi sedimentasi sungai. c. Pemantauan luas daerah intensitas banjir.
BIDANG GEOFISIKA BUMI PADAT, GEOLOGI, GEODESI, DAN LINGKUNGAN (LANDSAT, GEOSAT)
Manfaat penginderaan jauh di bidang geofisika, geologi, dan geodesi adalah sebagai berikut.
a. Melakukan pemetaan permukaan, di samping pemotretan dengan pesawat terbang dan menggunakan aplikasi GIS.
b. Menentukan struktur geologi dan macam batuan.
c. Melakukan pemantauan daerah bencana (kebakaran), pemantauan aktivitas gunung berapi, dan pemantauan persebaran debu vulkanik.
d. Melakukan pemantauan distribusi sumber daya alam, seperti hutan (lokasi, macam, kepadatan, dan perusakan), bahan tambang (uranium, emas, minyak bumi, dan batu bara).
e. Melakukan pemantauan pencemaran laut dan lapisan minyak di laut. f. Melakukan pemantauan pencemaran udara dan pencemaran laut. (Dra. Sri Hartati Soenarmo MSP, 1993)
IDENTIFIKASI BENTANG ALAM & BENTANG BUDAYA DARI CITRA PENGINDERAAN JAUH
Interpretasi citra adalah tindakan mengkaji foto dan atau citra dengan maksud untuk mengenali objek dan gejala serta menilai arti pentingnya objek dan gejala tersebut, (Estes, 1975 dan Sutarto, 1979).
Selain hal tersebut di atas, suatu foto udara secara sistematik biasanya melibatkan pertimbangan karakteristik dasar citra foto. Tujuh karakteristik yang digunakan oleh penafsir foto secara manual atau visual adalah sebagai berikut.
a. Bentuk ialah konfigurasi atau kerangka suatu objek yang langsung menumbuhkan kesan bentuk objek yang diidentifikasi sesuai dengan kenampakan pada foto udara. Contohnya gedung sekolah berbentuk empat persegi panjang, huruf L, huruf I, atau huruf U.
b. Ukuran ialah keluasan atau volum suatu objek yang berkaitan erat dengan skala foto sehingga besar kecilnya ukuran atau sempit luasnya ukuran sangat relatif. Contohnya ukuran rumah pada umumnya lebih kecil bila dibandingkan dengan ukuran kantor atau industri.
c. Pola ialah hubungan susunan spasial suatu objek. Contohnya pola aliran sungai dendritik.
d. Bayangan sangat penting bagi penafsir foto karena mendukung penalaran bentuk objek yang diidentifikasi. Contohnya cerobong asap, menara, tangki minyak dan lereng terjal.
e. Rona atau gradasi atau tingkat kecerahan/kegelapan objek pada foto udara hitam putih menunjukkan gradasi dari terang, terang kelabu, kelabu gelap hingga gelap atau hitam. Contohnya pantulan objek, misalnya air tampak gelap dan batuan kapur tampak cerah.
f. Tekstur atau frekuensi perubahan rona pada citra fotografi dihasilkan oleh kumpulan unit kenampakan atau merupakan gabungan dari bentuk, ukuran, pola, bayangan, dan rona. Contohnya pantulan objek, misalnya air tampak gelap dan batuan kapur tampak cerah.
g. Situs ialah suatu posisi atau lokasi suatu objek terhadap objek lainnya. Hal ini memberi kesan adanya hubungan yangsangat membantu penafsir foto dalam mengenali dan meyakini hasil interpretasi atau penafsiran suatu objek. Contohnya situs kebun kopi terletak di tanah miring karena tanaman kopi menghendaki adanya pengaturan air yang baik.
Beberapa Bentang Alam Hasil Penginderaan Jauh
A. Sungai
1. Pada foto udara hitam putih, warna permukaan air seragam. Air yang jernih berwarna gelap dan air yang keruh berwarna merah. Pada foto udara infra merah, warna pancaran terlihat gelap.
2. Arah sungai dikenal dengan :
a. Lebar sungai, yaitu makin lebar ke arah muara
b. Tempat-tempat pertemuan yang umumnya menyusut, lancip ke arah aliran sungai.
c. Perpindahan meander, di samping perpindahan ke bawah aliran sungai.
d. Beda tinggi, yaitu makin rendah ke muara
e. Bentuk gosong sungai (river bar) yang runcing dan melebar ke arah aliran.
B. Dataran Banjir
1. Permukaan rata dan letaknya lebih rendah dari sekitarnya. Kalau terjadi ketiraratan biasanya disebabkan oleh adanya danau tapak kudam point bar, bekas saluran, dan sebagainya.
2. tampak sungainya, meskipun kadang-kadang jauh (bagian terlebar dari dataran banjir di sungai Missisippi mencapai 125 mil dari sungainya.
3. Rona seragam atau tidak seragam
4. Pada umumnya digunakan untuk tanaman pertanian.
C. Hutan Bakau
1. Tidak memiliki rona yang hitam karena daya pantul sangat rendah
2. Tinggi pohon seragam, yakni antara 7 - 13 meter
3. Tumbuh pada pantai yang becek atau tepi sungai hingga batas air payau.
D. Hutan Rawa
1. memiliki tinggi pohon yang berbeda-beda hingga 50 meter sehingga rona dan teksturnya tidak seragam.
2. Ke arah laut dibatasi oleh hutan bakau dan ke arah pedalaman dibatasi oleh hutan rimba.
3. Tampak air atau perairan di dekatnya.
KEUNTUNGAN PENGGUNAAN PENGINDERAAN JAUH
Baik diukur dari jumlah bidang penggunaan maupun frekuensinya, penggunaan penginderaan jauh pada saat ini meningkat dengan pesat. Hal ini disebabkan oleh factor-faktor dibawah ini :
a. Citra menggambarkan objek, daerah, dan gejala di permukaan bumi dengan wujud dan letak objek yang mirip dengan wujud dan letaknya di permukaan bumi, relatif lengkap, meliput daerah yang luas, dan bersifat permanen. Wujud dan letak objek yang tergambar pada citra mirip dengan wujud dan letaknya di permukaan bumi. Citra merupakan alat dan sumber pembuatan peta, baik dari segi sumber data maupun sebagai kerangka letak. Kalau peta merupakan model analog, citra terutama foto udara merupakan modal ikonik karena wujud gambarnya mirip wujud objek sebenarnya.
Citra merupakan sumber data multimatik karena citra dapat digunakan untuk pelbagai bidang, seperti geografi, geologi, hidrologi, dan kehutanan. Penggunaan citra dapat menggambarkan daerah yang luas. Bagi foto udara berskala 1 : 50.000 dan berukuran standar 23 x 23 cm, tipe foto dapat meliput daerah seluas 132 km2. Satu lembar foto udara berskala 1 : 100.000 meliput daerah seluas 529 km2. Citra satelit LANDSAT IV yang dibuat pada ketinggian 700 km dapat meliput daerah seluas 34.000 km2. Di samping citra, hanya peta yang mampu menyajikan gambaran sinoptik walaupun berupa simbol. b. Dari jenis citra tertentu dapat ditimbulkan gambar tiga dimensi apabila pengamatannya dilakukan dengan alat steroskop. Gambar tersebut menguntungkan karena: · Menyajikan model medan yang jelas. · Menyajikan relief yang lebih jelas karena adanya pembesaran vertikal. · Memungkinkan pengukuran beda tinggi untuk pembuatan kontur. · Memungkinkan pengukuran lereng untuk menentukan kelas lahan atau konservasi lahan. d. Karakteristik objek yang tampak dapat diwujudkan dalam bentuk citra sehingga dimungkinkan pengenalan objeknya. Objek dapat dikenali berdasarkan beda suhunya. Kota yang direkam dengan citra inframerah termal tampak gelap pada malam hari, ini dapat diwujudkan bentuk citra yang cukup jelas. Selain itu, kebocoran pipa gas bawah tanah atau kebakaran tambang batu bara bawah tanah mudah dikenali pada citra inframerah termal. Objek tersebut tidak tampak oleh mata karena terletak di bawah tanah. Meskipun terlihat langsung oleh mata, air panas yang keluar dari industri tidak dapat dibedakan terhadap air lainnya dalam wujud yang sama. Air panas dapat dikenali dengan baik pada citra inframerah termal. e. Citra dapat dibuat secara cepat meskipun untuk daerah yang sulit dijelajahi secara langsung (terestrial). Hal ini dapat dibuktikan pada pemetaan daerah rawa, hutan, dan pegunungan. Kalau cuacanya baik, daerah tersebut dapat dipotret dengan citra secara cepat. Perekaman satu lembar foto udara meliput daerah seluas 132 km2 dilakukan dalam waktu kurang dari satu detik, sedangkan perekaman citra LANDSAT yang meliputi daerah seluas 34.000 km2 dilakukan dalam waktu 25 detik. f. Merupakan satu-satunya cara untuk pemetaan daerah bencana karena tidak ada cara lain yang mampu memetakan daerah bencana seara cepat justru pada saat terjadi bencana, misalnya banjir, gempa bumi, gunung meletus, seperti letusan
Gunung Galunggung tahun 1982 yang terekam antara lain pada citra satelit Cuaca GMS dan NOAA. g. Citra satelit dibuat dengan periode ulang yang pendek, misalnya 16 hari bagi citra LANDSAT IV dan dalam dua kali tiap harinya bagi citra NOAA. Dengan demikian, citra merupakan alat yang baik sekali untuk memantau perubahan yang cepat, seperti pembukaan hutan, pemekaran kota, atau perubahan kualitas lingkungan. ALAT UNTUK MENGINTERPRETASI CITRA (FOTO UDARA) Kita dapat menggunakan alat pengamat untuk menganalisis dan menginterpretasi citra atau foto udara. Dilihat dari sifatnya, alat pengamat dibedakan menjadi stereoskopik dan nonstereoskopik. Alat pengamat stereoskopik dapat digunakan untuk mengamati objek tiga dimensi (panjang, lebar, dan tinggi objek). GPS adalah perangkat atau alat untuk menentukan posisi tempat di bumi (globe) melalui sinyal satelit.
Senin, 16 November 2009
gis
Jan 15, '08 3:07 AMfor everyone
Sistem informasi geografis (Geographic Information System, GIS) adalah sistem yang dapat digunakan untuk menangkap, menyimpan, menganalisa, serta mengelola data dan karakteristik yang berhubungan yang secara spasial mengambil referensi ke bumi. Lebih jauh, sistem ini dapat didefinisikan sebagai sistem komputer untuk memadukan, menyimpan, membagi, serta menampilkan informasi yang mengambil acuan geografis. Teknologi GIS menggunakan informasi digital yang didapatkan dari metode pembuatan data digital. Metode pembuatan yang umum digunakan adalah digitization, yaitu peta cetak atau rencana survey yang ditransfer ke dalam bentuk media digital menggunakan program komputer (Computer aided drafting, CAD) serta kapabilitas georeferencing. GIS dapat digunakan untuk menggambarkan karakteristik permukaan, subsurface, dan atmosfir dari titik-titik informasi secara dua dimensi atau tiga dimensi. Contoh, GIS dapat membuat peta isopleth atau garis kontur yang mengindikasikan perbedaan curah hujan. GIS juga bisa mengenali dan menganalisas hubungan spasial yang ada antara data spasial yang tersimpan secara digital. Relasi topologi ini membuat pemodelan spasial dan analisa yang komplek dapat dilakukan. Relasi topologi yang dimodelkan dengan GIS dapat meliputi adjacency, containment, dan proximity. Dengan pemodelan topologi ini kita dapat mendeteksi keberadaan lokasi SPBU, pasar, atau pabrik yang letaknya dekat suatu area seperti persawahan, atau rawa-rawa. Selain itu, fungsi GIS juga dapat digunakan untuk mensimulasikan rute material sepanjang jaringan linier. Variabel seperti kemiringan, batas kecepatan, diameterpiap dapat dimasukkan kedalam pemodelan jaringan supaya merepresentasikan aliran fenomena secara akurat. Pemodelan jaringan ini umumnya digunakan dalam perencanaan transportasi, pemodelan hidrologi, serta infrastruktur. GIS juga bisa digunakan untuk pemodelan kartografi. Pemodelan kartografi (cartographic modelling) dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana layer tematik dibuat, diproses, dan dianalisa, pada suatu lingkup area yang sama. Operasi pada peta hasil pemodelan kartografi dapat digabungkan dengan algoritma untuk mensimulasikan atau mengoptimasi suatu model.SISTEM INFORMASI GEOGRAFISSistem Informasi Geografis (bahasa Inggris: Geographic Information System disingkat GIS) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini. GIS dengan Quantum GIS.Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi.STUDY GIS Sejak tahun 1989, Lembaga Alam Tropika Indonesia atau lebih dikenal dengan LATIN sangat "concern" untuk mengembangkan berbagai kegiatan dan metode dalam partisipasinya mewujudkan pengelolaan sumber daya alam di Indonesia yang lebih adil dan lestari. Pengembangan-pengembangan tersebut terutama difokuskan di tingkat masyarakat secara langsung (berbasis komunitas/masyarakat), dalam membantu meningkatkan kemampuan, peran serta dan tingkat hidup masyarakat, khususnya masyarakat di sekitar atau yang bergantung hidupanya pada hutan. Sampai saat ini LATIN sudah bekerja dengan masyarakat di puluhan desa yang tersebar di 7 kabupaten yaitu Pesisir Krui/Kab. Lampung Barat (Lampung), Kab. Pandeglang (Banten), Kab. Kuningan dan Sukabumi (Jawa Barat), Kab. Pekalongan (Jawa Tengah), Kab. Jember (Jawa Timur) dan Kab. Dompu (Nusa Tenggara Barat) Salah satu metode yang dikembangkan di lokasi-lokasi tersebut adalah pendekatan berbasis ruang (spasial) yang dilakukan secara partisipatif dan berbasis komunitas melalui pembentukan Studio GIS (Geographical Information System, dalam bahasa Indonesia yaitu SIG atau Sistem Informasi Geografis). Dengan metode ini pendekatan dalam penyelesaian masalah-masalah pengelolaan sumber daya alam dari mulai tingkat masyarakat sampai tingkat kebijakan, dimulai dengan membuat basis informasi yang kuat atas apa yang ada dan terjadi di lokasi di mana fenomena atau permasalahan tersebut terjadi, baik menyangkut aspek fisik, sosial, ekonomi, budaya, dll. Basis informasi ini yang kemudian menjadi bahan diskusi para pihak terkait untuk memutuskan apa yang terbaik yang harus dilakukan. Di 7 lokasi LATIN, sejak 10 tahun terakhir LATIN khususnya Studio GIS mengembangkan dan membantu masyarakat dengan memfasilitasi GIS dan Pemetaan Partisipatif, antara lain untuk perencanaan kawasan hutan, perencanaan desa, dsb.
Selain terus mengembangkan dan berinovasi dengan metode dan teknik-teknik GIS serta Pemetaan, dalam mengembangkan dan mempromosikan pendekatan-pendekatan berbasis spasial Studio GIS juga menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga baik di dalam maupun di luar negeri. Antara lain menjadi anggota JKPP (Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif), bekerja sama dengan Silva Forest Foundation (SFF) dan International Development and Research Center (IDRC) dari Kanada, International Institute for Rural Reconstruction (IIRR) dari Filipina, Sustainable Development Foundation (SDF) Thailand, ESSC Filipina, dll. Untuk memperluas dan mempromosikan pendekatan berbasis spasial kepada masyarakat luas dengan tema GIS / Pemetaan untuk keperluan yang lebih umum, Studio GIS sejak tahun 2000 memberikan berbagai layanan kepada publik antara lain konsultasi mengenai GIS dan Pemetaan, magang, pelatihan indoor dan outdoor, dll. Baik untuk mitra kerjanya, LSM, staf pemerintah, mahasiswa, maupun untuk masyarakat umum lainnya. Selain juga menerima print peta / poster, layanan data (peta) dijital, dsb. Untuk hal tersebut, Studio GIS telah didukung dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai antara lain Komputer PC dan Laptop, Plotter (Cetak Ukuran Besar), Printer, Scanner, Digitizer, GPS (Global Positioning System), Altimeter, Kompas, Meteran, dll. Sedangkan untuk perangkat lunaknya antara lain menggunakan Arc View GIS, Arc GIS 9.1, Mapinfo, Er Mapper, dll. Ditangani oleh staf yang telah berpengalaman selama 10 tahun di bidang GIS dan Pemetaan.
Software untuk GIS Program atau perangkat lunak untuk aplikasi GIS dan pemetaan banyak sekali, mungkin berbagai negara atau bahkan berbagai lembaga yang bergerak di bidang GIS dan pemetaan membuat dan mempunyai versinya sendiri-sendiri. Namun khusus di Indonesia menurut pengamatan kami selama ini ada beberapa nama yang sudah sejak lama mengisi user Indonesia dalam mengaplikasikan GIS dan pemetaan, mereka antara lain : 1. ESRI Dengan perangkat lunaknya yang terkenal yaitu Arcinfo, Arcview, dan sekarang Arc GIS. Selain itu ESRI juga membuat beberapa perangkat khusus untuk penggunaan GIS di bidang-bidang tertentu misal bisnis, internet, pemrograman, dll. Bisa dilihat di www.esri.com 2. Mapinfo Corp Perangkat lunak yang paling terkenal dari perusahaan ini adalah Mapinfo Professional yang sekarang sudah memasuki versi 8. Sama seperti ESRI, Mapinfo juga membuat beberapa aplikasi khusus untuk bidang-bidang tertentu. Bisa dilihat di www.mapinfo.com 3. Autodesk Autocad bukanlah nama asing terutama bagi praktisi atau pengguna yang bergerak di bidang penggambaran teknik seperti mesin , sipil atau arsitek, namun beberapa tahun terakhir perushaan ini juga membuat Autocad khusus untuk pemetaan dan GIS dengan nama Autodesk Map, bahkan versi terbaru sudah memasukan kemampuan tampilan 3 dimensi dengan nama Autodesk Map 3D 2007. Bagi yang sudah terbiasa menggunakan Autocad tidak akan terlalu sulit untuk mempelajari penggunaan software ini. Selengkapnya bisa anda lihat di www.autodesk.com. PEMETAAN EMOSI (BIO MAPPING) Begitu kira-kira judul yang kami interpretasikan sendiri ketika mengunjungi situsnya. Kebetulan kami bergabung dalam milis PGIS yang melibatkan praktisi-praktisi GIS dari seluruh dunia, dan di situ ada beberapa konsep tentang bio mapping tadi. Walaupun mungkin berjalan sudah lama, bagi kami adalah sesuatu yang baru dan bisa dibilang futuristik. Selama ini kami melakukan GIS hanya untuk hal-hal yang sifatnya di luar manusia sebagai individu sebagai makhluk hidup. Selama ini kami hanya membangga-banggakan GIS untuk urusan 'bumi' dan 'hasil-hasil kerjaan manusia di bumi'; tetapi belum untuk diri kita sendiri. Ternyata dengan Bio Mapping ini ada hal yang bisa dilakukan lebih oleh GIS dan peta. Bio mapping ini pada dasarnya adalah mencoba menggambarkan emosi manusia baik secara individu maupun komunal (kelompok) sesuai dengan lokasinya. Bagaimana pola-pola perubahan emosi digambarkan berbarengan dengan lokasi kejadiannya. Kalau dari metode pengumpulan datanya tidaklah sulit, seperti membuat peta dengan GPS; namun yang menarik adalah selama memetakan dengan GPS juga merekam perubahan-perubahan emosi yang terjadi dengan manusianya menggunakan alat tambahan; dan kemudian menampilkannya dengan Google Earth. Anda yang tertarik dengan dunia spasial sepertinya harus membacanya lebih jauh di situs aslinya di http://biomapping.netMapInfoAdalah software pengolah data spasial dan sistem informasi geografis. Software ini memiliki kemampuan pemetaan digital dan analisis-analisis yang diperlukan dalam sistem informasi geografis. Pada saat ini banyak institusi dan instansi yang mendasarkan berbagai kebijakannya pada analisis kewilayahan atau analisis geografis. Institusi dan instansi tersebut datang dari kalangan pemerintah ataupun akademisi baik swasta atau negeri.Sistem informasi geografis menjadi salah satu alat vital dalam pengambilan keputusan oleh beberapa instansi pemerintah. Sebagai contoh, Dinas Pajak Bumi dan Bangunan di seluruh Indonesia menggunakan MapInfo sebagai standar baku software pengolah data digital dan sistem informasi geografis. Bappeda di seluruh Indonesia juga telah menggunakan MapInfo sebagai software pendamping ArcView dan ArcInfo. Dinas lain yang menggunakan software ini adalah Dinas Perikanan dan Kelautan, Pemda di seluruh Indonesia, Departemen Kehutanan, dan Departemen Pertanian.Dari kalangan akademis, potensi banyak terbuka sejalan dengan telah diterapkannya mata kuliah Sistem Informasi Geografis di berbagai jurusan seperti Teknik Geodesi, Teknik Geologi, Teknik Pertambangan, Teknik Perminyakan, Teknik Mineral, Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Geografi, Penginderaan Jauh, Pertanian, Kehutanan, Perikanan, Kelautan, dan lain-lain.
Aplikasi Data Penginderaan Jauh untuk Mendukung Perencanaan Tata Ruang di Indonesia
1. Latar Belakang
Perencanaan Tata Ruang wilayah merupakan suatu upaya mencoba merumuskan usaha pemanfaatan ruang secara optimal dan efisien serta lestari bagi kegiatan usaha manusia di wilayahnya yang berupa pembangunan sektoral, daerah, swasta dalam rangka mewujudkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu.
Penyusunan tata ruang merupakan tugas besar dan melibatkan berbagai pihak yang dalam menjalankan tugas tidak terlepas dari data spasial. Data spasial yang dibutuhkan dalam rangka membuat suatu perkiraan kebutuhan atau pengembangan ruang jangka panjang adalah bervariasi mulai dari data yang bersifat umum hingga detail. Bentuk data spasial untuk kegiataan penataan ruang umumnya berupa peta digital dan peta analog yang masing-masing mempunyai karakteristik dan spesifikasi yang berbeda, dimana jenis dan ruang lingkup serta kedetailan rencana tata ruang sangat menentukanBerkaitan dengan kesiapan data spasial untuk mendukung tata ruang, ada beberapa titik kritis yang perlu mendapatkan perhatian kaitannya dengan prosedur kerja antara lain:
1. Belum adanya format data dan skala peta dasar yang baku untuk penyusunan tata ruang dalam berbagai tingkat. Ada perbedaan format baku peta dengan format operasional, demikian juga skala peta dikaitkan dengan jenis data yang harus digunakan dan prosedur pengolahan data.
2. Pengalaman menunjukkan bahwa belum memadainya kesadaran akan pentingnya penyediaan data spasial yang akurat dari kalangan pengguna. Data spasial yang akurat tidak dilihat sebagai komoditas yang strategis untuk kepentingan jangka panjang.
3. Pembuatan atau penyusunan data spasial skala 1 : 250.000 hingga 1 : 5000 untuk tata ruang detail dilakukan dengan anggapan peta sudah tersedia dan tidak disediakan alokasi biaya untuk pembuatan peta tersebut. Dampaknya adalah peta yang digunakan sudah kadaluarsa.
4. Pada berbagai rencana kegiatan, ketelitian peta yang dibutuhkan kadang-kadang bukan merupakan hal yang utama, yang diutamakan adalah penyebaran temanya. Informasi lokasi dan batas-batas fisik lebih diutamakan (bukan kepastian koordinat), sedangkan dalam beberapa hal misalnya infrastructure management kepastian lokasi harus dicirikan dengan ketepatan koordinat.
Kelengkapan dan kebenaran (kualitas) input data spasial akan sangat berpengaruh pada hasil atau keluarannya. Tanpa adanya data spasial yang memadai dalam arti kualitas planimetris dan informasi kualitatif, maka proses pengambilan keputusan tidak dapat dilaksanakan secara benar dan bertanggung jawab.
2. Penginderaan Jauh untuk Pengembangan Wilayah
Suatu wilayah baik di pedasaan maupun di perkotaan menampilkan wujud yang rumit, tidak teratur dan dimensi yang heterogen. Kenampakan wilayah perkotaan jauh lebih rumit dari pada kenampakan daerah pedesaan. Hal ini disebabkan persil lahan kota pada umumnya sempit, bangunannya padat, dan fungsi bangunannya beraneka. Oleh karena itu sistem penginderaan jauh yang diperlukan untuk penyusunan tata ruang harus disesuaikan dengan resolusi spasial yang sepadan. Untuk keperluan perencanan tata ruang detail, maka resolusi spasial yang tinggi akan mampu menyajikan data spasial secara rinci. Data satelit seperti Landsat TM dan SPOT dapat pula digunakan untuk keperluan penyusunan tata ruang hingga tingkat kerincian tertentu, misalnya tingkat I (membedakan kota dan bukan kota). hingga sebagian tingkat II (perumahan, industri, perdagangan, dsb.). Sedangkan untuk tingkat III (rincian dari tingkat II, misalnya perumahan teratur dan tidak teratur) dan tingkat IV (rincian dari tingkat III, misalnya perumahan teratur yang padat, sedang, dan jarang.Welch (1982) menyatakan bahwa untuk penyusunan tata ruang perkotaan di Amerika Serikat dengan memanfaatkan data penginderaan jauh, menggunakan konsep hubungan antara resolusi spasial data penginderaan jauh dan tingkat kerincian data yang dihasilkan, disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Hubungan antara resolusi spasial data penginderaan jauh dan kerincian penggunaan lahan kota di Amerika Serikat (Sumber : Welch, 1982)
Gambar 1 mengisyaratkan bahwa citra Landsat ETM dengan pixel 15 m dapat digunakan untuk data penggunaan lahan kota tingkat kerincian I sampai kerincian tingkat II, atau untuk membedakan daerah yang secara fisik berupa perumahan dan non perumahan terhadap daerah sekitarnya. Untuk kerincian tingkat III diperlukan resolusi spasial sekitar 1-3 m. dan tingkat kerincian III dan IV masing-masing diperlukan resolusi spasial lebih kecil atau sama dengan 1 m. Oleh karena itu mengacu pendapat Welch, data satelit resolusi tinggi dengan resolusi spasial 0.7-1.0 m dapat digunakan untuk memperoleh sebagian data penggunaan lahan dengan tingkat kerincian III dan IV.
3. Landasan Hukum Penyusunan Tata Ruang
Struktur perencanaan pembangunan nasional yang dicirikan dengan terbitnya Undang-Undang No 25 Tahun 2004 tantang sistem perencanaan nasional, maka kepala daerah terpilih diharuskan menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) di daerahnya masing-masing. Dokumen RPJM ini akan menjadi acuan pembangunan daerah yang memuat antara lain visi, misi, arah kebijakan dan program-program pembangunan selama 5 (lima) tahun ke depan. Dengan demikian terkait kondisi tersebut, maka dokumen Rancana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang ada juga harus mengacu pada visi dan misi tersebut. Dengan kata lain RTRW yang ada merupakan bagian dari terjemahan visi, misi daerah yang dipresentasikan dalam bentuk pola dan struktur pemanfaatan ruang.
Landasan hukum penyusunan tata ruang di Indonesia secara umum mengacu pada Undang-Undang Nomer 24 tahun 1992 tentang penataan ruang. Pedoman ini sebagai landasan hukum yang berisi tentang kewajiban setiap Propinsi, Kabupaten dan Kota untuk menyusun tata ruang wilayah sebagai arahan pelaksanaan pembangunan daerah. Kewajiban Daerah untuk menyusun tata ruang berkaitan dengan penerapan desentralisasi dan otonomi daerah.Menindak lanjuti Undang-Undang tersebut di atas, Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 327/KPTS/M/2002 menetapkan enam pedoman bidang penataan ruang, meliputi :
a. Pedoman penyusunan RTRW propinsi.
b. Pedoman Penyusunan Kembali RTRW propinsi.
c. Pedoman penyusunan RTRW kabupaten
d. Pedoman penyusunan kembali RTRW kabupaten.
e. Pedoman penyusunan RTRW perkotaan.
f. Pedoman penyusunan kembali RTRW perkotaan.
Pedoman seperti tertulis di atas sebagai acuan bagi para penanggung jawab pengembangan wilayah propinsi, kabupaten dan kawasan perkotaan. Pedoman penyusunan RTRW meliputi kegiatan penyusunan mulai dari persiapan hingga proses legalisasi. Hal-hal teknis operasional yang belum diatur dalam keputusan Menteri ini diatur lebih lanjut oleh pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 tahun 1992 tentang penataan ruang, rencana tata ruang dirumuskan secara berjenjang mulai dari tingkat yang sangat umum sampai tingkat yang sangat rinci seperti dicerminkan dari tata ruang tingkat propinsi, kabupaten, perkotaan, desa dan bahkan untuk tata ruang yang bersifat tematis, misalnya untuk kawasan pesisir, pulau-pulau kecil, jaringan jalan, dan lain sebagainya.
Mengingat rencana tata ruang merupakan salah satu aspek dalam rencana pembangunan nasional dan pembangunan daerah, maka tata ruang nasional, propinsi dan kabupaten/kota merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan dari aspek substansi dan operasional harus konsistensi.
RTRW nasional merupakan strategi dan arahan kebijakan pemanfaatan ruang wilayah negara yang meliputi tujuan nasional dan arahan pemanfaatan ruang antar pulau dan antar propinsi. RTRW nasional disusun pada tingkat ketelitian skala 1 : 1.000.000 untuk jangka waktu selama 25 tahun.
RTRW propinsi merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan runag wilayah propinsi yang berfokus pada keterkaitan antar kawasan/kabupaten/kota. RTRW propinsi disusun pada tingkat ketelitian skala 1 : 250.000 untuk jangka waktu 15 tahun.
RTRW kabupaten/Kota merupakan rencana tata ruang yang disusun berdasarkan perkiraan kecenderuangan dan arahan perkembangan untuk pembangunan daerah di masa depan. RTRW kabupaten/kota disusun pada tingkat ketelitian 1 : 100.000 untuk kabupaten dan 1 : 25.000 untuk daerah perkotaan, untuk jangka waktu 5-10 tahun sesuai perkembangan daerah.
4. Ruang Lingkup Analisis Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah
Berdasarkan landasan hukum dan pedoman umum penyusunan tata ruang, substansi data dan analisis penyusunan RTRW propinsi dan kabupaten adalah sebagai berikut :
4.1. Ruang Lingkup RTRW Propinsi
a. Substansi data dan analisis
· Kebijakan pembangunan
· Analisis regional
· Ekonomi regional
· Sumberdaya manusia
· Sumberdaya buatan
· Sumberdaya alam
· Sistem permukiman
· Penggunaan lahan
· Analisis kelembagaan
b. Substansi RTRW propinsi
· Arahan struktur dan pola pemanfaatan ruang
· Arahan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya
· Arahan pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dan tematik
· Arahan pengembangan kawasan permukiman, kehutanan, pertanian, pertambangan, perindustrian, pariwisata dan kawasan lainnya.
· Arahan pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan
· Arahan pengembangan sistem prasarana wilayah
· Arahan pengembangan kawasan yang diprioritaskan
· Arahan kebijakan tata guna tanah , air, udara dan sumberdaya alam Lain.
4.2. Ruang Lingkup RTRW Kabupatena. Substansi data dan analisis
· Kebijakan pembangunan
· Analisis regional
· Ekonomi dan sektor unggulan
· Sumberdaya manusia
· Sumberdaya buatan
· Sumberdaya alam
· Sistem permukiman
· Penggunaan lahan
· Pembiayaan pembangunan
· Analisis kelembagaan
b. Substansi RTRW propinsi
· Rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang
· Rencana pengelolaan kawasan lindung dan budidaya
· Rencana pengelolaan kawasan pedesaan, perkotaan dan tematik
· Rencana sistem prasarana wilayah
· Rencana penatagunaan tanah , air, udara dan sumberdaya alam Lain.
· Rencana sistem kegiatan pembangunan
Secara rinci penjabaran dari tiap-tiap substansi disajikan pada Tabel 1.
5. Pola Pemetaan Pemanfaatan Ruang Berwawasan Lingkungan di Indonesia
Adanya peraturan perundang-undangan penyusunan tata ruang yang bersifat nasional, seperti Undang-Undang No 25 Tahun 2004 dan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 327/KPTS/M/2002 kiranya dapat digunakan pula sebagai dasar dalam melaksanakan pemetaan mintakat ruang sesuai asas optimal dan lestari. Untuk menata ruang yang optimal dengan prinsip lestari perlu adanya perencanaan yang holistik antara potensi, kondisi dan kebutuhan akan sumberdaya ruang. Penyusunan tata ruang dalam konteks ini bukan sekedar mengalokasikan tempat untuk suatu kegiatan tertentu, melainkan menempatkan tiap tiap kegiatan penggunaan lahan pada bagian lahan yang berkemampuan serasi dan lestari untuk kegiatan masing-masing. Oleh karena itu hasil penyusunan tata ruang bukan tujuan, akan tetapi sarana. Yang menjadi tujuan tata ruang ialah manfaat total lahan/ruang dengan sebaik-baiknya dari kemampuan total lahan secara sinambung atau lestari.
6. Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh untuk Penyusunan Tata Ruang
Berdasarkan Gambar 2, peranan data penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) menjadi semakin jelas. Gambar 2 menunjukkan bahwa semakin ke kanan skala yang dibutuhkan semakin besar, artinya semakin rinci pula informasi spasial yang harus dapat diidentifikasi. Hal ini tentu akan berpengaruh kepada jenis data penginderaan jauh yang digunakan. Tabel 1 menjelaskan peranan data penginderaan jauh dan SIG untuk mendukung penyusunan peta tata lingkungan, peta tata ruang, peta tata guna lahan dan peta ddesain guna lahan.
7. Langkah Langkah yang Dilakukan LAPAN Dalam Mendukung Implementasi Penyusunan Tata Ruang
Penyusunan Tata Ruang tidak terlepas dari kebutuhan akan tersedianya data spasial yang akurat , periodik ( 1-5 tahun) dan rinci sesuai dengan tujuan tata ruang itu sendiri, untuk propinsi atau kabupaten.Salah satu alternatif yang paling mungkin dalam rangka tersedianya data spasial untuk tata ruang secara cepat adalah memanfaatkan teknologi satelit penginderaan jauh. Secara lebih rinci pemanfaatan data penginderaan jauh untuk tata ruang disajikan pada sub bab 6.Di Indonesia pemanfaatan teknologi penginderaan jauh sudah banyak dilakukan oleh berbagai kalangan, baik institusi pemerintah: LAPAN, BAKOSURTANAL, BPPT dan lain sebagainya, juga oleh kalangan perguruan tinggi dan organisasi swasta. Pada umumnya upaya upaya yang telah dilakukan untuk sosialisasi pemanfaatan data penginderaan jauh antara lain meliputi penguasaan teknologi penginderaan jauh, pengembangan model-model yang diturunkan dari data penginderaan jauh, kegiatan inventarisasi sumberdaya alam dan mengintegrasikan dengan aplikasi SIG.
Gambar 2. Pola penataan ruang berwawasan lingkungan di Indonesia
Jenis data
Tata lingkungan
Tata ruang
Tata guna lahan
Desain guna lahan
1. Landsat(15??0 m)
1.Identifikasi penggunaan Lahan dengan tingkat kerincian I2. Acuan Geo-reference pada skala 1 : 50.0003. Menghitung proporsi luas masing masing penggunaan lahan.4. Data dasar spasial untuk analisis lanjutan
1.Identifikasi penggunaan Lahan dengan tingkat kerincian I-II2. Acuan Geo-reference pada skala 1 : 50.0003.Menghitung proporsi luas masing masing penggunaan lahan4. Data dasar spasial untuk analisis lanjutan
Bahan untuk orientasi wilayah secara global
Bahan untuk orientasi wilayah secara global
2. SPOT4
SDA
SDA
1. Identifikasi penggunaan lahan tingkat kerincian II ??III2. Acuan Geo-reference sampai skala 1 : 25.000.3. Menghitung proporsi luas penggunaan lahan tingkat kerincian II ??III4. Titik atau garis kontur dengan interval sampai 12.5 m5.Data Dasar spasial untuk pengolahan atau analisis lanjutan
3. SPOT 5( 2.5 m)Ikonos, Quick Bird( 0.7?? m)
SDA
1.Identifikasi penggunaan lahan tingkat kerincian III ??V2. Acuan Geo-reference sampai skala lebih besar 10.0003.Menghitung proporsi luas penggunaan lahan tingkat kerincian III -IV4. Informasi garis kontur detail5. Data dasar spasial pengolahan atau analisis lanjutan
Tabel 1.
LAPAN sebagai instansi pemerintah yang mempunyai kompetensi untuk menyediakan data penginderaan jauh dan memanfaatkannya dalam berbagai aplikasi dalam skala nasional, sejak tahun 2000 telah membangun dan menyusun berbagai model aplikasi untuk berbagai kegiatan seperti pertanian, kehutanan, iklim, geologi, tata ruang dan lain sebagainya. Berbagai jenis data dari resolusi rendah (NOAA, GMS dan MODIS) sampai resolusi spasial tinggi baik sensor pasif maupun aktif ( SPOT-5, IKONOS, QUICK BIRD) juga digunakan untuk mengembangkan model model aplikasi yang lebih luas dan lebih dalam.
Untuk aplikasi data penginderan jauh terkait tata ruang dalam rangka mendukung ketersediaan data spasial, LAPAN telah melakukan inventarisasi informasi spasial penutup lahan skala 1:100.000 seluruh Indonesia berbasis citra Landsat ETM. Demikian juga untuk berbagai wilayah prioritas telah tersedia informasi yang relatif rinci berdasarkan data citra SPOT-5, IKONOS dan QUICK BIRD. Berbagai contoh aplikasi untuk tata ruang disajikan pada Gambar Lampiran 1-3.
8. Penanganan Masalah yang Berkaitan dengan Data Spasial
Dalam menangani masalah ketersediaan data spasial yang up to date, salah satu data spasial yang saat ini banyak digunakan sebagai data dasar untuk penyusunan tata ruang adalah informasi spasial yang diturunkan dari data penginderaan jauh. Data penginderaan jauh mempunyai berbagai jenis dan tingkat ketelitian, disamping itu data penginderaan jauh juga dapat memberikan data real time serta selalu diperbaharui. Teknologi penginderaan jauh mampu menyediakan data mulai dari skala 1 : 1000.000 sampai dengan 1 : 5000. Oleh karena itu pemanfaatan informasi spasial dari data penginderaan jauh untuk tata ruang telah mencakup seluruh skala dan sangat fleksibel disesuaikan dengan tujuan penyusunan tata ruang, apakah untuk tingkat nasional, propinsi, kabupaten atau detail teknis.
Tidak tersedianya informasi spasial yang ideal untuk mendukung seluruh ruang lingkup analisis penyusunan tata ruang baik dalam aspek kuantitatif dan kualitatif bagaimanapun harus ditutupi dengan pemanfaatan data satelit penginderaan jauh yang dikombinasikan dengan data spasial lainnya melalui pendekatan SIG. Salah satu pendekatan cerdas untuk mengoptimalkan pemanfaatan data satelit penginderaan jauh adalah melakukan kombinasi data penginderaan jauh dengan data kontur dari Shuttle Radar Topographic Mission (SRTM) dan data koordinat planimateris dari Global Positioning System (GPS) untuk memperolah informasi yang lebih akurat serta informasi morfometri (kemiringan lereng, panjang lereng dan bentuk lereng serta ketinggian relatifnya) sesuai dengan skala yang dibutuhkan. Sedangkan aspek kualitatif yang merupakan informasi penutup lahan/penggunaan lahan dapat digunakan sebagai informasi kualitatif terkini untuk mendukung perencanaan tata ruang dengan tambahan kegiatan verifikasi lapangan (ground truth). Verifikasi lapangan akan sangat efektif hasilnya jika dilakukan oleh mereka yang memahami dan menguasai kondisi wilayah bersangkutan. Hal ini akan sangat efisien dan efektif apabila terjalin pelaksanaan kerjasama antara instansi penyedia data satelit penginderaan jauh dengan instansi pengguna, khususnya pemerintah daerah guna menghasilkan informasi keruangan yang diturunkan dari citra satelit yang diverifikasi secara bersama.
9. Penutup
Dimasa yang akan datang diharapkan seluruh pemangku kepentingan (stake holder) yang terlibat dalam penyusunan tata ruang, baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota dapat memanfaatkan keunggulan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk mendukung penyusunan tata ruang. Dengan demikian minimnya atau ketidaktersediaan data spasial yang selama ini menjadi kendala utama dalam penyusunan tataruang dapat dengan cepat teratasi.
Pustaka
1. Anonimus. 1993. Remote Sensing Note. Japan Association on Remote Sensing. University. Of Tokyo
2. Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional. 2004. Peraturan Perundang-Undangan Bidang Penataan Ruang. Buletin Tata Ruang. Jakarta.
3. Hadi Sabari.Y.. 2000. Struktur Tata Ruang Kota. Pustaka Pelajar Offset. Yogyakarta
4. Larz T. Anderson. 2000. Petunjuk Dalam Persiapan Perencanaan Kota. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik. Universitas Diponegoro. Semarang.
5. Maskun. Soemitro. 1996. Penataan Ruang dan Pembangunan Perkotaan dalam kerangka Otonomi Daerah. Proceding. CIDES. Jakarta
6. Nurmandi. 1999. Manajemen Perkotaan. Lingkaran Bangsa. Yogyakarta
7. Socki. B.S.. 1993. The Potential of Aerial Photos for Slum and Squatter Settlement Detection and Mapping. Asian-Pasific Remote Sensing Journal. Vol.5. No.2. Bangkok.
8. Sugeng Martopo, Tejoyuwono. 1987. Pembangunan Wilayah Berwawasan Lingkungan. Kumpulan Makalah Kursus SEPADYA. Yogyakarta.
Lampiran
Gambar Lampiran 1. Contoh aplikasi data spasial untuk mendukung tata ruang skala 1:2.500
Gambar Lampiran 2. Contoh aplikasi data spasial untuk mendukung tata ruang skala 1:50.000
Gambar Lampiran 3. Contoh aplikasi data spasial untuk mendukung tata ruang skala 1:100.000
Oleh:Dr Wiske Rotinsulu SP MES PhD
Teknologi Geospasial. Geospasial dapat didefinisikan sebagai data/informasi tentang posisi, objek dan hubungannya di ruang bumi. Dalam tulisan ini, teknologi geospasial merujuk ke metode penginderaan jauh dan sistem informasi geografis.Citra yang diambil di pertengahan tahap pengisian biji merupakan sa-at terbaik untuk memprediksi hasil panen karena diperoleh adanya korelasi terbaik antara IV dengan hasil panen. Hasil yang sama juga ditemukan oleh Yang et al. (2004) pada tanaman sorgum.Sistem Informasi GeografisSIG merupakan seperangkat alat yang bermanfaat untuk mengum-pulkan, menyimpan, memanggil kembali, mentransformasikan dan menayangkan data spasial bumi (Burrough, 1998). SIG membutuh-kan masukan data yang bersifat spasial maupun deskriptif. Bebera-pa sumber data tersebut antara la-in adalah: data penginderaan ja-uh, peta analog, hasil survey dan data yang direkam oleh GPS. Ke-mampuan SIG dalam menganalisis data spasial dan memvisualisasi-kan data tersebut inilah yang membedakan SIG dengan sistem informasi lainnya.Aplikasi SIG dalam pengelolaan sumber daya alam meliputi berba-gai aspek. Aplikasi SIG di bidang pertanian misalnya untuk prediksi produksi tanaman, pemetaan per-wilayahan komoditi dan identifi-kasi penyebaran pupuk. Di bidang kehutanan, untuk pemetaan hu-tan, evaluasi lahan kritis, perenca-naan penebangan pohon untuk industri hutan, perencanaan refo-restasi, dan visualisasi bentangan lahan. Untuk konservasi, SIG digu-nakan untuk pemetaan habitat flora dan fauna dan perencanaan kawasan konservasi. Penelitian ya-ng dilakukan oleh Rotinsulu (2006) memperlihatkan kegunaan tekno-logi penginderaan jauh dan SIG da-lam permodelan distribusi spasial flora palem Sulawesi.Modeling produksi tanaman me-rupakan salah satu contoh aplikasi SIG di bidang pertanian yang akan di uraikan lebih lanjut dalam tuli-san ini. Permodelan dengan meng-gunakan SIG menawarkan suatu mekanisme yang mengintegrasi-kan berbagai jenis data (biofisik) yang dikembangkan atau diguna-kan dalam penelitian pertanian. Monitoring kondisi tanaman perta-nian sepanjang musim tanaman serta prediksi potensi hasil panen berperan penting dalam mengana-lisis produksi musiman. Informasi hasil panen yang akurat dan terki-ni sangat dibutuhkan oleh depar-temen pertanian berbagai negara.Integrasi Penginderaan Ja-uh dan SIG untuk Prediksi Hasil PertanianIntegrasi data satelit dan model produktivitas tanaman merupakan metode analisis kuantitatif yang penting untuk menduga hasil pa-nen pada skala lokal dan regional. Data penginderaan jauh praktis di-gunakan untuk permodelan tana-man dengan kondisi kanopi yang selalu dinamis berubah dalam waktu dan ruang.Sebelumnya telah diuraikan me-tode pendugaan hasil tanaman ya-ng dilakukan berdasarkan data sa-telit dengan menggunakan indika-tor biomassa tanaman dan IV. Wa-laupun pendekatan IV dapat dika-takan sederhana, hubungan anta-ra IV dengan hasil dapat dikatakan bersifat lokal dan sensitif terhadap terhadap tanah dan kondisi atmos-fer. Untuk prediksi hasil pertanian pada berbagai kondisi, dibutuhkan parameter lainnya yang dapat menjelaskan mekanisme fisiolo-gis/biologis yang mengontrol per-tumbuhan dan perkembangan ta-naman (Moulin, et al., 1998). Oleh karena itu dibutuhkan model-mo-del mekanistis yang mampu me-ngintegrasikan berbagai parameter (biofisik tanaman, tanah, iklim dan sistem budidaya) yang mempenga-ruhi produksi tanaman. Beberapa model tanaman seperti halnya En-vironmental Policy Integrated Cli-mate (EPIC) (Easterling et al.,1998; Izaurralde et al., 2003) dan FAO model: Specific Water Balance (CS-WB) (Reynolds et al., 2000) telah diintegrasikan dengan SIG untuk menghasilkan model tanaman spasial yang kemudian diintegrasi-kan data penginderaan jauh yang terkini berhasil mensimulasi hasil produksi tanaman secara efisien dalam skala regionalModeling agroekosistem berbasis SIG merupakan metode powerful di mana dapat membantu pengelo-la/pengambil keputusan di bidang pertanian untuk menganalisis se-cara langsung bukan hanya penga-ruh lingkungan biofisik terhadap produksi tanaman tetapi juga me-nganalisis pengaruh sistem budi-daya terhadap hasil panen.Implikasi Pemanfaatan Tek-nologi Geospasial bagi Pem-bangunan Pertanian Sula-wesi UtaraProgram Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang dicanangkan pemerintah provinsi Sulawesi Utara sebagai strategi mengurangi kemiskinan dan pe-ngangguran, secara jelas telah me-nempatkan pertanian sebagai sa-lah satu sektor unggulan pemba-ngunan. Perbaikan mutu, kuanti-tas dan kontinuitas produk perta-nian merupakan target yang harus dicapai sebagai salah satu indika-tor keberhasilan program tersebut.Tantangan yang dihadapi dalam upaya mencapai target di atas di antaranya musim panas yang ber-kepanjangan (kekeringan), berku-rangnya kesuburan tanah, sera-ngan hama dan penyakit serta gul-ma. Dari uraian sebelumnya jelas terlihat bagaimana potensi tekno-logi penginderaan jauh dalam men-deteksi kondisi biofisik tanaman, tanah, bahkan memberikan infor-masi cuaca (satelit cuaca) yang ce-pat, murah, detail dan up-to-date. Selain itu, prediksi hasil panen un-tuk skala lokal dapat diperoleh langsung lewat data penginderaan jauh. Walaupun untuk prediksi hasil pada skala yang lebih luas (regional), dibutuhkan adanya integrasi dengan SIG karena me-nggunakan parameter yang lebih kompleks.Adopsi teknologi geospasial me-rupakan salah satu management option dalam mencapai keberhasi-lan program revitalisasi bidang per-tanian. Dari uraian di atas, jelas terlihat potensi pemanfaatan data penginderaan jauh dan SIG di bi-dang pertanian contohnya untuk memantau pertumbuhan dan pre-diksi hasil panen. Data penginde-raan jauh yang di integrasikan de-ngan GIS berperan penting dalam perencanaan dan pengelolaan sumberdaya pertanian di mana akan menghasilkan keputusan/kebijakan yang lebih realistik dan akurat.(habis)
Rabu, 11 November 2009
HTML
HTML adalah sebuah bahasa markup yang digunakan untuk membuat sebuah halaman web dan menampilkan bagian informasi di dalam sebuah browser Internet, Bermula dari sebuah bahasa yang sebelumnya banyak digunakan didunia penerbitan dan percetakan yang disebut dengan SGML (Standard Generalized Markup Language), HTML adalah sebuah standar yang digunakan secara luas untuk menampilkan halaman web. HTML saat ini merupakan standar Internet yang didefinisikan dan dikendalikan penggunaannya oleh World Wide Web Consortium (W3C)
Versi terakhir dari HTML adalah HTML 4.01, meskipun saat ini telah berkembang XHTML yang merupakan pengembangan dari HTML.
HTML berupa kode-kode tag yang menginstruksikan browser untuk menghasilkan tampil sesuai dengan yang diinginkan. Sebuah file yang merupakan file HTML dapat dibuka dengan menggunakan browser web seperti Mozilla Firefox atau Microsoft Internet Explorer. HTML juga dapat dikenali oleh aplikasi pembuka email ataupun dari PDA dan program lain yang memiliki kemampuan browser.
Secara garis besar, terdapat 4 jenis elemen dari HTML:
- Structural. Tanda yang menentukan level atau tingkat dari sebuah teks.
- Presentational. Tanda yang menentukan tampilan dari sebuah teks tidak peduli dengan level dari teks tersebut.
- Hypertext. Tanda yang menunjukkan pranala ke bagian dari dokumen tersebut atau pranal ke dokumen lain.
- Elemen widget yang membuat objek-objek lain.
Teknologi Geospasial untuk Sektor Pertanian(4)



Oleh:Dr Wiske Rotinsulu SP MES PhD
Teknologi Geospasial. Geospasial dapat didefinisikan sebagai data/informasi tentang posisi, objek dan hubungannya di ruang bumi. Dalam tulisan ini, teknologi geospasial merujuk ke metode penginderaan jauh dan sistem informasi geografis.
Citra yang diambil di pertengahan tahap pengisian biji merupakan sa-at terbaik untuk memprediksi hasil panen karena diperoleh adanya korelasi terbaik antara IV dengan hasil panen. Hasil yang sama juga ditemukan oleh Yang et al. (2004) pada tanaman sorgum.
Sistem Informasi Geografis
SIG merupakan seperangkat alat yang bermanfaat untuk mengum-pulkan, menyimpan, memanggil kembali, mentransformasikan dan menayangkan data spasial bumi (Burrough, 1998). SIG membutuh-kan masukan data yang bersifat spasial maupun deskriptif. Bebera-pa sumber data tersebut antara la-in adalah: data penginderaan ja-uh, peta analog, hasil survey dan data yang direkam oleh GPS. Ke-mampuan SIG dalam menganalisis data spasial dan memvisualisasi-kan data tersebut inilah yang membedakan SIG dengan sistem informasi lainnya.
Aplikasi SIG dalam pengelolaan sumber daya alam meliputi berba-gai aspek. Aplikasi SIG di bidang pertanian misalnya untuk prediksi produksi tanaman, pemetaan per-wilayahan komoditi dan identifi-kasi penyebaran pupuk. Di bidang kehutanan, untuk pemetaan hu-tan, evaluasi lahan kritis, perenca-naan penebangan pohon untuk industri hutan, perencanaan refo-restasi, dan visualisasi bentangan lahan. Untuk konservasi, SIG digu-nakan untuk pemetaan habitat flora dan fauna dan perencanaan kawasan konservasi. Penelitian ya-ng dilakukan oleh Rotinsulu (2006) memperlihatkan kegunaan tekno-logi penginderaan jauh dan SIG da-lam permodelan distribusi spasial flora palem Sulawesi.
Modeling produksi tanaman me-rupakan salah satu contoh aplikasi SIG di bidang pertanian yang akan di uraikan lebih lanjut dalam tuli-san ini. Permodelan dengan meng-gunakan SIG menawarkan suatu mekanisme yang mengintegrasi-kan berbagai jenis data (biofisik) yang dikembangkan atau diguna-kan dalam penelitian pertanian. Monitoring kondisi tanaman perta-nian sepanjang musim tanaman serta prediksi potensi hasil panen berperan penting dalam mengana-lisis produksi musiman. Informasi hasil panen yang akurat dan terki-ni sangat dibutuhkan oleh depar-temen pertanian berbagai negara.
Integrasi Penginderaan Ja-uh dan SIG untuk Prediksi Hasil Pertanian
Integrasi data satelit dan model produktivitas tanaman merupakan metode analisis kuantitatif yang penting untuk menduga hasil pa-nen pada skala lokal dan regional. Data penginderaan jauh praktis di-gunakan untuk permodelan tana-man dengan kondisi kanopi yang selalu dinamis berubah dalam waktu dan ruang.
Sebelumnya telah diuraikan me-tode pendugaan hasil tanaman ya-ng dilakukan berdasarkan data sa-telit dengan menggunakan indika-tor biomassa tanaman dan IV. Wa-laupun pendekatan IV dapat dika-takan sederhana, hubungan anta-ra IV dengan hasil dapat dikatakan bersifat lokal dan sensitif terhadap terhadap tanah dan kondisi atmos-fer. Untuk prediksi hasil pertanian pada berbagai kondisi, dibutuhkan parameter lainnya yang dapat menjelaskan mekanisme fisiolo-gis/biologis yang mengontrol per-tumbuhan dan perkembangan ta-naman (Moulin, et al., 1998). Oleh karena itu dibutuhkan model-mo-del mekanistis yang mampu me-ngintegrasikan berbagai parameter (biofisik tanaman, tanah, iklim dan sistem budidaya) yang mempenga-ruhi produksi tanaman. Beberapa model tanaman seperti halnya En-vironmental Policy Integrated Cli-mate (EPIC) (Easterling et al.,1998; Izaurralde et al., 2003) dan FAO model: Specific Water Balance (CS-WB) (Reynolds et al., 2000) telah diintegrasikan dengan SIG untuk menghasilkan model tanaman spasial yang kemudian diintegrasi-kan data penginderaan jauh yang terkini berhasil mensimulasi hasil produksi tanaman secara efisien dalam skala regional
Modeling agroekosistem berbasis SIG merupakan metode powerful di mana dapat membantu pengelo-la/pengambil keputusan di bidang pertanian untuk menganalisis se-cara langsung bukan hanya penga-ruh lingkungan biofisik terhadap produksi tanaman tetapi juga me-nganalisis pengaruh sistem budi-daya terhadap hasil panen.
Implikasi Pemanfaatan Tek-nologi Geospasial bagi Pem-bangunan Pertanian Sula-wesi Utara
Program Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang dicanangkan pemerintah provinsi Sulawesi Utara sebagai strategi mengurangi kemiskinan dan pe-ngangguran, secara jelas telah me-nempatkan pertanian sebagai sa-lah satu sektor unggulan pemba-ngunan. Perbaikan mutu, kuanti-tas dan kontinuitas produk perta-nian merupakan target yang harus dicapai sebagai salah satu indika-tor keberhasilan program tersebut.
Tantangan yang dihadapi dalam upaya mencapai target di atas di antaranya musim panas yang ber-kepanjangan (kekeringan), berku-rangnya kesuburan tanah, sera-ngan hama dan penyakit serta gul-ma. Dari uraian sebelumnya jelas terlihat bagaimana potensi tekno-logi penginderaan jauh dalam men-deteksi kondisi biofisik tanaman, tanah, bahkan memberikan infor-masi cuaca (satelit cuaca) yang ce-pat, murah, detail dan up-to-date. Selain itu, prediksi hasil panen un-tuk skala lokal dapat diperoleh langsung lewat data penginderaan jauh. Walaupun untuk prediksi hasil pada skala yang lebih luas (regional), dibutuhkan adanya integrasi dengan SIG karena me-nggunakan parameter yang lebih kompleks.
Adopsi teknologi geospasial me-rupakan salah satu management option dalam mencapai keberhasi-lan program revitalisasi bidang per-tanian. Dari uraian di atas, jelas terlihat potensi pemanfaatan data penginderaan jauh dan SIG di bi-dang pertanian contohnya untuk memantau pertumbuhan dan pre-diksi hasil panen. Data penginde-raan jauh yang di integrasikan de-ngan GIS berperan penting dalam perencanaan dan pengelolaan sumberdaya pertanian di mana akan menghasilkan keputusan/kebijakan yang lebih realistik dan akurat.(habis)
Penulis meraih gelar S3 di University of Newcastle, Inggris di bidang Permodelan Lingkungan.
Tulisan ini dibawakan sebagai pidato ilmiah dalam rangka Dies Natalis Fakultas Pertanian,
Unsrat Manado.
DEFINISI GIS
Geographic Information System merupakan integrasi antara perangkat keras, perangkat lunak, dan data untuk menangkap, mengatur, menganalisa, dan menampilkan semua bentuk geografi yang memberikan informasi.


manfaat gis dalam kehutanan
Informasi lokasi atau informasi spasial. Contoh yangumum adalah informasi lintang dan bujur, termasukdiantaranya informasi datum dan proyeksi. Contoh laindari informasi spasial yang bisa digunakan untukmengidentifikasikan lokasi misalnya adalah KodePos.• Informasi deskriptif (atribut) atau informasi nonspasial. Suatu lokalitas bisa mempunyai beberapaatribut atau properti yang berkaitan dengannya;contohnya jenis vegetasi, populasi, pendapatan pertahun, dsb.sedangkan untuk Sistem Koordinat yang akan kami pergunakan dapat dijelaskan sebagai informasi lokasi yang ditentukan berdasarkan sistem koordinat peta yang mencakup datum dan proyeksi data.Sedangkan sistem proyeksi peta adalah sistem yang dirancang untuk merepresentasikan permukaan dari suatu bidang lengkung atau spheroid(misalnya bumi) pada suatu bidang datar. Proses representasi ini menyebabkan distorsi yang perlu diperhitungkan untuk memperoleh ketelitian beberapamacam properti, seperti jarak, sudut, atau luasan.
http://graphicdesainertobe.blogspot.com/2009/03/rancangan-aplikasi-gis-untuk_6056.html
Selasa, 10 November 2009
penginderaan jauh GIS
Landsat merupakan satelit sumberdaya bumi tak berawak yang membawa sensor non fotografik. Satelit Landsat yang hingga akhir ini masih terus berfungsi adalah Landsat generasi kedua, yaitu Landsat-4 dan Landsat-5, yang diluncurkan pada 16 Juli 1982 dan 1 Maret 1984. Landsat-4 dan Landsat-5 telah mengalami perbaikan yang menyangkut resolusi spasial, resolusi spektral dan ketelitian radiometrik (Lindgren, 1985; dalam Sutanto, 1987). Landsat-4 dan Landsat-5 termasuk satelit sinkron matahari, hampir polar, yang mengorbit dengan hampir melewati kutub, memotong arah rotasi bumi, yang dapat meliput hampir seluruh permukaan bumi. Ketinggian orbit Landsat-4 dan Landsat-5 adalah 705 km dari permukaan o terhadap equator atau bumi dengan sudut inklinasi 98,2o dari nominal. Dalam setiap orbitnya diperlukan waktu 8,299 menit atau dalam sehari satelit Landsat Thematic Mapper akan mengorbit bumi sebanyak 14,5 kali dengan resolusi temporal 16 hari. Sensor Landsat-4 dan Landsat-5 2memberikan citra dengan liputan 185x185 km , pertampalan depan 5,4% dan pertampalan samping 7,3 pada wilayah equator dan semakin besar pertampalannya untuk lintang yang lebih tinggi. Landsat TM pada saluran 1 hingga 5 dan saluran 7 memiliki resolusi spasial sebesar 30 meter, sedangkan saluran 6 (inframerah termal) memiliki resolusi spasial sebesar 120 meter. Satelit generasi ketiga adalah Landsat-6 dan Landsat-7 merupakan sistem Landsat yang baru dengan menggunakan sensor ETM (Enhanced Thematic Mapper) pada Landsat 6 dan sensor ETM+ (Enhanced Thematic Mapper Plus) pada Landsat 7. Landsat 6 tidak dapat melakukan fungsinya disebabkan karena kegagalannya dalam mencapai orbit. Sensor ETM+ pada Landsat 7 mempunyai berbagai kelebihan dari seri sebelumnya, yaitu ditambahkannya band 8 (pankromatik) dengan resolusi 15 meter, kalibrasi radiometri 5% (absolute) dan resolusi spasial 60 meter pada saluran inframerah termal. Sampai pada tahun ini (2003), generasi Landsat yang masih beroperasi serta datanya yang masih digunakan adalah satelit Landsat 5 dan satelit Landsat 7 (Bakker dalam Jansen, 2000)
Tabel 2.1. Saluran Spektral Yang Terdapat Pada Sensor ETM+. Panjang Saluran Manfaat Utama Gelombang (um) 1 0,45 – 0,52 Penetrasi ke dalam tubuh air, dan juga untuk mendukung analisis sifat khas penggunaan lahan, tanah dan vegetasi. 2 0,52 – 0,60 Merupakan puncak pantulan vegetasi pada spektrum hijau yang terletak diantara dua saluran spektral serapan klorofil. 3 0,63 – 0,69 Peka terhadap penyerapan kloropil untuk membedakan jenis tumbuhan. 4 0,76 – 0,90 Tanggap terhadap sejumlah biomassa vegetasi yang terdapat pada daerah kajian, membantu identifikasi tanaman dan memperkuat kontras tanaman-tanah maupun lahan-air. 5 1,55 – 1,75 Penentuan jenis tanaman, kandungan air pada tanaman, dan kondisi kelembaban tanah. 6 10,4 – 12,5 Merupakan saluran termal yang bermanfaat untuk klasifikasi vegetasi, analisa gangguan vegetasi, pemisahan kelembaban tanah, dan sejumlah gejala lain yang berhubungan dengan panas. 7 2,08 – 2,35 Penonjolan kenampakan formasi batuan 8 0.50 - 0.90 Merupakan saluran pakromatik dengan resolusi yang lebih baik dibandingkan dengan ketujuh saluran yang lain. Sumber : NASA (2000)
Karakteristik Satelit Quickbird Satelit QuickBird dari Digital Globe mempunyai sapuan (swath ) yang lebar, penyimpanan data on-board yang besar, dan resolusi spasial yang tertinggi dari beberapa satelit 13
komersial pada saat ini. QuickBird didisain untuk efesiensi dan keakuratan citra untuk area yang luas dengan kemampuan akurasi terdepan. QuickBird mampu memperoleh lebih dari 75 juta kilometer per segi data citra satelit tiap perekamannya.
aspek penggunaan GIS pada bidang kehutanan
1. Latar Belakang
Perencanaan Tata Ruang wilayah merupakan suatu upaya mencoba merumuskan usaha pemanfaatan ruang secara optimal dan efisien serta lestari bagi kegiatan usaha manusia di wilayahnya yang berupa pembangunan sektoral, daerah, swasta dalam rangka mewujudkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu.
Penyusunan tata ruang merupakan tugas besar dan melibatkan berbagai pihak yang dalam menjalankan tugas tidak terlepas dari data spasial. Data spasial yang dibutuhkan dalam rangka membuat suatu perkiraan kebutuhan atau pengembangan ruang jangka panjang adalah bervariasi mulai dari data yang bersifat umum hingga detail. Bentuk data spasial untuk kegiataan penataan ruang umumnya berupa peta digital dan peta analog yang masing-masing mempunyai karakteristik dan spesifikasi yang berbeda, dimana jenis dan ruang lingkup serta kedetailan rencana tata ruang sangat menentukanBerkaitan dengan kesiapan data spasial untuk mendukung tata ruang, ada beberapa titik kritis yang perlu mendapatkan perhatian kaitannya dengan prosedur kerja antara lain:
Belum adanya format data dan skala peta dasar yang baku untuk penyusunan tata ruang dalam berbagai tingkat. Ada perbedaan format baku peta dengan format operasional, demikian juga skala peta dikaitkan dengan jenis data yang harus digunakan dan prosedur pengolahan data.
Pengalaman menunjukkan bahwa belum memadainya kesadaran akan pentingnya penyediaan data spasial yang akurat dari kalangan pengguna. Data spasial yang akurat tidak dilihat sebagai komoditas yang strategis untuk kepentingan jangka panjang.
Pembuatan atau penyusunan data spasial skala 1 : 250.000 hingga 1 : 5000 untuk tata ruang detail dilakukan dengan anggapan peta sudah tersedia dan tidak disediakan alokasi biaya untuk pembuatan peta tersebut. Dampaknya adalah peta yang digunakan sudah kadaluarsa.
Pada berbagai rencana kegiatan, ketelitian peta yang dibutuhkan kadang-kadang bukan merupakan hal yang utama, yang diutamakan adalah penyebaran temanya. Informasi lokasi dan batas-batas fisik lebih diutamakan (bukan kepastian koordinat), sedangkan dalam beberapa hal misalnya infrastructure management kepastian lokasi harus dicirikan dengan ketepatan koordinat.
Kelengkapan dan kebenaran (kualitas) input data spasial akan sangat berpengaruh pada hasil atau keluarannya. Tanpa adanya data spasial yang memadai dalam arti kualitas planimetris dan informasi kualitatif, maka proses pengambilan keputusan tidak dapat dilaksanakan secara benar dan bertanggung jawab.
2. Penginderaan Jauh untuk Pengembangan Wilayah
Suatu wilayah baik di pedasaan maupun di perkotaan menampilkan wujud yang rumit, tidak teratur dan dimensi yang heterogen. Kenampakan wilayah perkotaan jauh lebih rumit dari pada kenampakan daerah pedesaan. Hal ini disebabkan persil lahan kota pada umumnya sempit, bangunannya padat, dan fungsi bangunannya beraneka. Oleh karena itu sistem penginderaan jauh yang diperlukan untuk penyusunan tata ruang harus disesuaikan dengan resolusi spasial yang sepadan. Untuk keperluan perencanan tata ruang detail, maka resolusi spasial yang tinggi akan mampu menyajikan data spasial secara rinci. Data satelit seperti Landsat TM dan SPOT dapat pula digunakan untuk keperluan penyusunan tata ruang hingga tingkat kerincian tertentu, misalnya tingkat I (membedakan kota dan bukan kota). hingga sebagian tingkat II (perumahan, industri, perdagangan, dsb.). Sedangkan untuk tingkat III (rincian dari tingkat II, misalnya perumahan teratur dan tidak teratur) dan tingkat IV (rincian dari tingkat III, misalnya perumahan teratur yang padat, sedang, dan jarang.Welch (1982) menyatakan bahwa untuk penyusunan tata ruang perkotaan di Amerika Serikat dengan memanfaatkan data penginderaan jauh, menggunakan konsep hubungan antara resolusi spasial data penginderaan jauh dan tingkat kerincian data yang dihasilkan, disajikan pada Gambar 1.
file:///F:/Aplikasi%20Data%20Penginderaan%20Jauh%20untuk%20Mendukung%20Perencanaan%20Tata%20Ruang%20di%20Indonesia%20-%20heldi_net_files/topik_utama04_01.gif
Gambar 1. Hubungan antara resolusi spasial data penginderaan jauh dan kerincian penggunaan lahan kota di Amerika Serikat (Sumber : Welch, 1982)
Gambar 1 mengisyaratkan bahwa citra Landsat ETM dengan pixel 15 m dapat digunakan untuk data penggunaan lahan kota tingkat kerincian I sampai kerincian tingkat II, atau untuk membedakan daerah yang secara fisik berupa perumahan dan non perumahan terhadap daerah sekitarnya. Untuk kerincian tingkat III diperlukan resolusi spasial sekitar 1-3 m. dan tingkat kerincian III dan IV masing-masing diperlukan resolusi spasial lebih kecil atau sama dengan 1 m. Oleh karena itu mengacu pendapat Welch, data satelit resolusi tinggi dengan resolusi spasial 0.7-1.0 m dapat digunakan untuk memperoleh sebagian data penggunaan lahan dengan tingkat kerincian III dan IV.
3. Landasan Hukum Penyusunan Tata Ruang
Struktur perencanaan pembangunan nasional yang dicirikan dengan terbitnya Undang-Undang No 25 Tahun 2004 tantang sistem perencanaan nasional, maka kepala daerah terpilih diharuskan menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) di daerahnya masing-masing. Dokumen RPJM ini akan menjadi acuan pembangunan daerah yang memuat antara lain visi, misi, arah kebijakan dan program-program pembangunan selama 5 (lima) tahun ke depan. Dengan demikian terkait kondisi tersebut, maka dokumen Rancana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang ada juga harus mengacu pada visi dan misi tersebut. Dengan kata lain RTRW yang ada merupakan bagian dari terjemahan visi, misi daerah yang dipresentasikan dalam bentuk pola dan struktur pemanfaatan ruang.
Landasan hukum penyusunan tata ruang di Indonesia secara umum mengacu pada Undang-Undang Nomer 24 tahun 1992 tentang penataan ruang. Pedoman ini sebagai landasan hukum yang berisi tentang kewajiban setiap Propinsi, Kabupaten dan Kota untuk menyusun tata ruang wilayah sebagai arahan pelaksanaan pembangunan daerah. Kewajiban Daerah untuk menyusun tata ruang berkaitan dengan penerapan desentralisasi dan otonomi daerah.Menindak lanjuti Undang-Undang tersebut di atas, Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 327/KPTS/M/2002 menetapkan enam pedoman bidang penataan ruang, meliputi :
Pedoman penyusunan RTRW propinsi.
Pedoman Penyusunan Kembali RTRW propinsi.
Pedoman penyusunan RTRW kabupaten
Pedoman penyusunan kembali RTRW kabupaten.
Pedoman penyusunan RTRW perkotaan.
Pedoman penyusunan kembali RTRW perkotaan.
Pedoman seperti tertulis di atas sebagai acuan bagi para penanggung jawab pengembangan wilayah propinsi, kabupaten dan kawasan perkotaan. Pedoman penyusunan RTRW meliputi kegiatan penyusunan mulai dari persiapan hingga proses legalisasi. Hal-hal teknis operasional yang belum diatur dalam keputusan Menteri ini diatur lebih lanjut oleh pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 tahun 1992 tentang penataan ruang, rencana tata ruang dirumuskan secara berjenjang mulai dari tingkat yang sangat umum sampai tingkat yang sangat rinci seperti dicerminkan dari tata ruang tingkat propinsi, kabupaten, perkotaan, desa dan bahkan untuk tata ruang yang bersifat tematis, misalnya untuk kawasan pesisir, pulau-pulau kecil, jaringan jalan, dan lain sebagainya.
Mengingat rencana tata ruang merupakan salah satu aspek dalam rencana pembangunan nasional dan pembangunan daerah, maka tata ruang nasional, propinsi dan kabupaten/kota merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan dari aspek substansi dan operasional harus konsistensi.
RTRW nasional merupakan strategi dan arahan kebijakan pemanfaatan ruang wilayah negara yang meliputi tujuan nasional dan arahan pemanfaatan ruang antar pulau dan antar propinsi. RTRW nasional disusun pada tingkat ketelitian skala 1 : 1.000.000 untuk jangka waktu selama 25 tahun.
RTRW propinsi merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan runag wilayah propinsi yang berfokus pada keterkaitan antar kawasan/kabupaten/kota. RTRW propinsi disusun pada tingkat ketelitian skala 1 : 250.000 untuk jangka waktu 15 tahun.
RTRW kabupaten/Kota merupakan rencana tata ruang yang disusun berdasarkan perkiraan kecenderuangan dan arahan perkembangan untuk pembangunan daerah di masa depan. RTRW kabupaten/kota disusun pada tingkat ketelitian 1 : 100.000 untuk kabupaten dan 1 : 25.000 untuk daerah perkotaan, untuk jangka waktu 5-10 tahun sesuai perkembangan daerah.
4. Ruang Lingkup Analisis Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah
Berdasarkan landasan hukum dan pedoman umum penyusunan tata ruang, substansi data dan analisis penyusunan RTRW propinsi dan kabupaten adalah sebagai berikut :
4.1. Ruang Lingkup RTRW Propinsi
a. Substansi data dan analisis
Kebijakan pembangunan
Analisis regional
Ekonomi regional
Sumberdaya manusia
Sumberdaya buatan
Sumberdaya alam
Sistem permukiman
Penggunaan lahan
Analisis kelembagaan
b. Substansi RTRW propinsi
Arahan struktur dan pola pemanfaatan ruang
Arahan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya
Arahan pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan dan tematik
Arahan pengembangan kawasan permukiman, kehutanan, pertanian, pertambangan, perindustrian, pariwisata dan kawasan lainnya.
Arahan pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan
Arahan pengembangan sistem prasarana wilayah
Arahan pengembangan kawasan yang diprioritaskan
Arahan kebijakan tata guna tanah , air, udara dan sumberdaya alam Lain.
4.2. Ruang Lingkup RTRW Kabupatena. Substansi data dan analisis
Kebijakan pembangunan
Analisis regional
Ekonomi dan sektor unggulan
Sumberdaya manusia
Sumberdaya buatan
Sumberdaya alam
Sistem permukiman
Penggunaan lahan
Pembiayaan pembangunan
Analisis kelembagaan
b. Substansi RTRW propinsi
Rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang
Rencana pengelolaan kawasan lindung dan budidaya
Rencana pengelolaan kawasan pedesaan, perkotaan dan tematik
Rencana sistem prasarana wilayah
Rencana penatagunaan tanah , air, udara dan sumberdaya alam Lain.
Rencana sistem kegiatan pembangunan
Secara rinci penjabaran dari tiap-tiap substansi disajikan pada Tabel 1.
5. Pola Pemetaan Pemanfaatan Ruang Berwawasan Lingkungan di Indonesia
Adanya peraturan perundang-undangan penyusunan tata ruang yang bersifat nasional, seperti Undang-Undang No 25 Tahun 2004 dan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 327/KPTS/M/2002 kiranya dapat digunakan pula sebagai dasar dalam melaksanakan pemetaan mintakat ruang sesuai asas optimal dan lestari. Untuk menata ruang yang optimal dengan prinsip lestari perlu adanya perencanaan yang holistik antara potensi, kondisi dan kebutuhan akan sumberdaya ruang. Penyusunan tata ruang dalam konteks ini bukan sekedar mengalokasikan tempat untuk suatu kegiatan tertentu, melainkan menempatkan tiap tiap kegiatan penggunaan lahan pada bagian lahan yang berkemampuan serasi dan lestari untuk kegiatan masing-masing. Oleh karena itu hasil penyusunan tata ruang bukan tujuan, akan tetapi sarana. Yang menjadi tujuan tata ruang ialah manfaat total lahan/ruang dengan sebaik-baiknya dari kemampuan total lahan secara sinambung atau lestari.
6. Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh untuk Penyusunan Tata Ruang
Berdasarkan Gambar 2, peranan data penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) menjadi semakin jelas. Gambar 2 menunjukkan bahwa semakin ke kanan skala yang dibutuhkan semakin besar, artinya semakin rinci pula informasi spasial yang harus dapat diidentifikasi. Hal ini tentu akan berpengaruh kepada jenis data penginderaan jauh yang digunakan. Tabel 1 menjelaskan peranan data penginderaan jauh dan SIG untuk mendukung penyusunan peta tata lingkungan, peta tata ruang, peta tata guna lahan dan peta ddesain guna lahan.
7. Langkah Langkah yang Dilakukan LAPAN Dalam Mendukung Implementasi Penyusunan Tata Ruang
Penyusunan Tata Ruang tidak terlepas dari kebutuhan akan tersedianya data spasial yang akurat , periodik ( 1-5 tahun) dan rinci sesuai dengan tujuan tata ruang itu sendiri, untuk propinsi atau kabupaten.Salah satu alternatif yang paling mungkin dalam rangka tersedianya data spasial untuk tata ruang secara cepat adalah memanfaatkan teknologi satelit penginderaan jauh. Secara lebih rinci pemanfaatan data penginderaan jauh untuk tata ruang disajikan pada sub bab 6.Di Indonesia pemanfaatan teknologi penginderaan jauh sudah banyak dilakukan oleh berbagai kalangan, baik institusi pemerintah: LAPAN, BAKOSURTANAL, BPPT dan lain sebagainya, juga oleh kalangan perguruan tinggi dan organisasi swasta. Pada umumnya upaya upaya yang telah dilakukan untuk sosialisasi pemanfaatan data penginderaan jauh antara lain meliputi penguasaan teknologi penginderaan jauh, pengembangan model-model yang diturunkan dari data penginderaan jauh, kegiatan inventarisasi sumberdaya alam dan mengintegrasikan dengan aplikasi SIG.
file:///F:/Aplikasi%20Data%20Penginderaan%20Jauh%20untuk%20Mendukung%20Perencanaan%20Tata%20Ruang%20di%20Indonesia%20-%20heldi_net_files/topik_utama04_02.gif
Jenis data
Tata lingkungan
Tata ruang
Tata guna lahan
Desain guna lahan
1. Landsat(15??0 m)
1.Identifikasi penggunaan Lahan dengan tingkat kerincian I2. Acuan Geo-reference pada skala 1 : 50.0003. Menghitung proporsi luas masing masing penggunaan lahan.4. Data dasar spasial untuk analisis lanjutan
1.Identifikasi penggunaan Lahan dengan tingkat kerincian I-II2. Acuan Geo-reference pada skala 1 : 50.0003.Menghitung proporsi luas masing masing penggunaan lahan4. Data dasar spasial untuk analisis lanjutan
Bahan untuk orientasi wilayah secara global
Bahan untuk orientasi wilayah secara global
2. SPOT4
SDA
SDA
1. Identifikasi penggunaan lahan tingkat kerincian II ??III2. Acuan Geo-reference sampai skala 1 : 25.000.3. Menghitung proporsi luas penggunaan lahan tingkat kerincian II ??III4. Titik atau garis kontur dengan interval sampai 12.5 m5.Data Dasar spasial untuk pengolahan atau analisis lanjutan
3. SPOT 5( 2.5 m)Ikonos, Quick Bird( 0.7?? m)
SDA
1.Identifikasi penggunaan lahan tingkat kerincian III ??V2. Acuan Geo-reference sampai skala lebih besar 10.0003.Menghitung proporsi luas penggunaan lahan tingkat kerincian III -IV4. Informasi garis kontur detail5. Data dasar spasial pengolahan atau analisis lanjutan
Tabel 1.
LAPAN sebagai instansi pemerintah yang mempunyai kompetensi untuk menyediakan data penginderaan jauh dan memanfaatkannya dalam berbagai aplikasi dalam skala nasional, sejak tahun 2000 telah membangun dan menyusun berbagai model aplikasi untuk berbagai kegiatan seperti pertanian, kehutanan, iklim, geologi, tata ruang dan lain sebagainya. Berbagai jenis data dari resolusi rendah (NOAA, GMS dan MODIS) sampai resolusi spasial tinggi baik sensor pasif maupun aktif ( SPOT-5, IKONOS, QUICK BIRD) juga digunakan untuk mengembangkan model model aplikasi yang lebih luas dan lebih dalam.
Untuk aplikasi data penginderan jauh terkait tata ruang dalam rangka mendukung ketersediaan data spasial, LAPAN telah melakukan inventarisasi informasi spasial penutup lahan skala 1:100.000 seluruh Indonesia berbasis citra Landsat ETM. Demikian juga untuk berbagai wilayah prioritas telah tersedia informasi yang relatif rinci berdasarkan data citra SPOT-5, IKONOS dan QUICK BIRD. Berbagai contoh aplikasi untuk tata ruang disajikan pada Gambar Lampiran 1-3.
8. Penanganan Masalah yang Berkaitan dengan Data Spasial
Dalam menangani masalah ketersediaan data spasial yang up to date, salah satu data spasial yang saat ini banyak digunakan sebagai data dasar untuk penyusunan tata ruang adalah informasi spasial yang diturunkan dari data penginderaan jauh. Data penginderaan jauh mempunyai berbagai jenis dan tingkat ketelitian, disamping itu data penginderaan jauh juga dapat memberikan data real time serta selalu diperbaharui. Teknologi penginderaan jauh mampu menyediakan data mulai dari skala 1 : 1000.000 sampai dengan 1 : 5000. Oleh karena itu pemanfaatan informasi spasial dari data penginderaan jauh untuk tata ruang telah mencakup seluruh skala dan sangat fleksibel disesuaikan dengan tujuan penyusunan tata ruang, apakah untuk tingkat nasional, propinsi, kabupaten atau detail teknis.
Tidak tersedianya informasi spasial yang ideal untuk mendukung seluruh ruang lingkup analisis penyusunan tata ruang baik dalam aspek kuantitatif dan kualitatif bagaimanapun harus ditutupi dengan pemanfaatan data satelit penginderaan jauh yang dikombinasikan dengan data spasial lainnya melalui pendekatan SIG. Salah satu pendekatan cerdas untuk mengoptimalkan pemanfaatan data satelit penginderaan jauh adalah melakukan kombinasi data penginderaan jauh dengan data kontur dari Shuttle Radar Topographic Mission (SRTM) dan data koordinat planimateris dari Global Positioning System (GPS) untuk memperolah informasi yang lebih akurat serta informasi morfometri (kemiringan lereng, panjang lereng dan bentuk lereng serta ketinggian relatifnya) sesuai dengan skala yang dibutuhkan. Sedangkan aspek kualitatif yang merupakan informasi penutup lahan/penggunaan lahan dapat digunakan sebagai informasi kualitatif terkini untuk mendukung perencanaan tata ruang dengan tambahan kegiatan verifikasi lapangan (ground truth). Verifikasi lapangan akan sangat efektif hasilnya jika dilakukan oleh mereka yang memahami dan menguasai kondisi wilayah bersangkutan. Hal ini akan sangat efisien dan efektif apabila terjalin pelaksanaan kerjasama antara instansi penyedia data satelit penginderaan jauh dengan instansi pengguna, khususnya pemerintah daerah guna menghasilkan informasi keruangan yang diturunkan dari citra satelit yang diverifikasi secara bersama.
file:///F:/Aplikasi%20Data%20Penginderaan%20Jauh%20untuk%20Mendukung%20Perencanaan%20Tata%20Ruang%20di%20Indonesia%20-%20heldi_net_files/topik_utama04_03.gif
Gambar Lampiran 1. Contoh aplikasi data spasial untuk mendukung tata ruang skala 1:2.500
file:///F:/Aplikasi%20Data%20Penginderaan%20Jauh%20untuk%20Mendukung%20Perencanaan%20Tata%20Ruang%20di%20Indonesia%20-%20heldi_net_files/topik_utama04_04.gif
Gambar Lampiran 2. Contoh aplikasi data spasial untuk mendukung tata ruang skala 1:50.000
file:///F:/Aplikasi%20Data%20Penginderaan%20Jauh%20untuk%20Mendukung%20Perencanaan%20Tata%20Ruang%20di%20Indonesia%20-%20heldi_net_files/topik_utama04_05.gif
Gambar Lampiran 3. Contoh aplikasi data spasial untuk mendukung tata ruang skala 1:100.000