


Oleh:Dr Wiske Rotinsulu SP MES PhD
Teknologi Geospasial. Geospasial dapat didefinisikan sebagai data/informasi tentang posisi, objek dan hubungannya di ruang bumi. Dalam tulisan ini, teknologi geospasial merujuk ke metode penginderaan jauh dan sistem informasi geografis.
Citra yang diambil di pertengahan tahap pengisian biji merupakan sa-at terbaik untuk memprediksi hasil panen karena diperoleh adanya korelasi terbaik antara IV dengan hasil panen. Hasil yang sama juga ditemukan oleh Yang et al. (2004) pada tanaman sorgum.
Sistem Informasi Geografis
SIG merupakan seperangkat alat yang bermanfaat untuk mengum-pulkan, menyimpan, memanggil kembali, mentransformasikan dan menayangkan data spasial bumi (Burrough, 1998). SIG membutuh-kan masukan data yang bersifat spasial maupun deskriptif. Bebera-pa sumber data tersebut antara la-in adalah: data penginderaan ja-uh, peta analog, hasil survey dan data yang direkam oleh GPS. Ke-mampuan SIG dalam menganalisis data spasial dan memvisualisasi-kan data tersebut inilah yang membedakan SIG dengan sistem informasi lainnya.
Aplikasi SIG dalam pengelolaan sumber daya alam meliputi berba-gai aspek. Aplikasi SIG di bidang pertanian misalnya untuk prediksi produksi tanaman, pemetaan per-wilayahan komoditi dan identifi-kasi penyebaran pupuk. Di bidang kehutanan, untuk pemetaan hu-tan, evaluasi lahan kritis, perenca-naan penebangan pohon untuk industri hutan, perencanaan refo-restasi, dan visualisasi bentangan lahan. Untuk konservasi, SIG digu-nakan untuk pemetaan habitat flora dan fauna dan perencanaan kawasan konservasi. Penelitian ya-ng dilakukan oleh Rotinsulu (2006) memperlihatkan kegunaan tekno-logi penginderaan jauh dan SIG da-lam permodelan distribusi spasial flora palem Sulawesi.
Modeling produksi tanaman me-rupakan salah satu contoh aplikasi SIG di bidang pertanian yang akan di uraikan lebih lanjut dalam tuli-san ini. Permodelan dengan meng-gunakan SIG menawarkan suatu mekanisme yang mengintegrasi-kan berbagai jenis data (biofisik) yang dikembangkan atau diguna-kan dalam penelitian pertanian. Monitoring kondisi tanaman perta-nian sepanjang musim tanaman serta prediksi potensi hasil panen berperan penting dalam mengana-lisis produksi musiman. Informasi hasil panen yang akurat dan terki-ni sangat dibutuhkan oleh depar-temen pertanian berbagai negara.
Integrasi Penginderaan Ja-uh dan SIG untuk Prediksi Hasil Pertanian
Integrasi data satelit dan model produktivitas tanaman merupakan metode analisis kuantitatif yang penting untuk menduga hasil pa-nen pada skala lokal dan regional. Data penginderaan jauh praktis di-gunakan untuk permodelan tana-man dengan kondisi kanopi yang selalu dinamis berubah dalam waktu dan ruang.
Sebelumnya telah diuraikan me-tode pendugaan hasil tanaman ya-ng dilakukan berdasarkan data sa-telit dengan menggunakan indika-tor biomassa tanaman dan IV. Wa-laupun pendekatan IV dapat dika-takan sederhana, hubungan anta-ra IV dengan hasil dapat dikatakan bersifat lokal dan sensitif terhadap terhadap tanah dan kondisi atmos-fer. Untuk prediksi hasil pertanian pada berbagai kondisi, dibutuhkan parameter lainnya yang dapat menjelaskan mekanisme fisiolo-gis/biologis yang mengontrol per-tumbuhan dan perkembangan ta-naman (Moulin, et al., 1998). Oleh karena itu dibutuhkan model-mo-del mekanistis yang mampu me-ngintegrasikan berbagai parameter (biofisik tanaman, tanah, iklim dan sistem budidaya) yang mempenga-ruhi produksi tanaman. Beberapa model tanaman seperti halnya En-vironmental Policy Integrated Cli-mate (EPIC) (Easterling et al.,1998; Izaurralde et al., 2003) dan FAO model: Specific Water Balance (CS-WB) (Reynolds et al., 2000) telah diintegrasikan dengan SIG untuk menghasilkan model tanaman spasial yang kemudian diintegrasi-kan data penginderaan jauh yang terkini berhasil mensimulasi hasil produksi tanaman secara efisien dalam skala regional
Modeling agroekosistem berbasis SIG merupakan metode powerful di mana dapat membantu pengelo-la/pengambil keputusan di bidang pertanian untuk menganalisis se-cara langsung bukan hanya penga-ruh lingkungan biofisik terhadap produksi tanaman tetapi juga me-nganalisis pengaruh sistem budi-daya terhadap hasil panen.
Implikasi Pemanfaatan Tek-nologi Geospasial bagi Pem-bangunan Pertanian Sula-wesi Utara
Program Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang dicanangkan pemerintah provinsi Sulawesi Utara sebagai strategi mengurangi kemiskinan dan pe-ngangguran, secara jelas telah me-nempatkan pertanian sebagai sa-lah satu sektor unggulan pemba-ngunan. Perbaikan mutu, kuanti-tas dan kontinuitas produk perta-nian merupakan target yang harus dicapai sebagai salah satu indika-tor keberhasilan program tersebut.
Tantangan yang dihadapi dalam upaya mencapai target di atas di antaranya musim panas yang ber-kepanjangan (kekeringan), berku-rangnya kesuburan tanah, sera-ngan hama dan penyakit serta gul-ma. Dari uraian sebelumnya jelas terlihat bagaimana potensi tekno-logi penginderaan jauh dalam men-deteksi kondisi biofisik tanaman, tanah, bahkan memberikan infor-masi cuaca (satelit cuaca) yang ce-pat, murah, detail dan up-to-date. Selain itu, prediksi hasil panen un-tuk skala lokal dapat diperoleh langsung lewat data penginderaan jauh. Walaupun untuk prediksi hasil pada skala yang lebih luas (regional), dibutuhkan adanya integrasi dengan SIG karena me-nggunakan parameter yang lebih kompleks.
Adopsi teknologi geospasial me-rupakan salah satu management option dalam mencapai keberhasi-lan program revitalisasi bidang per-tanian. Dari uraian di atas, jelas terlihat potensi pemanfaatan data penginderaan jauh dan SIG di bi-dang pertanian contohnya untuk memantau pertumbuhan dan pre-diksi hasil panen. Data penginde-raan jauh yang di integrasikan de-ngan GIS berperan penting dalam perencanaan dan pengelolaan sumberdaya pertanian di mana akan menghasilkan keputusan/kebijakan yang lebih realistik dan akurat.(habis)
Penulis meraih gelar S3 di University of Newcastle, Inggris di bidang Permodelan Lingkungan.
Tulisan ini dibawakan sebagai pidato ilmiah dalam rangka Dies Natalis Fakultas Pertanian,
Unsrat Manado.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar