Rabu, 11 November 2009

HTML

HTML adalah sebuah bahasa markup yang digunakan untuk membuat sebuah halaman web dan menampilkan bagian informasi di dalam sebuah browser Internet, Bermula dari sebuah bahasa yang sebelumnya banyak digunakan didunia penerbitan dan percetakan yang disebut dengan SGML (Standard Generalized Markup Language), HTML adalah sebuah standar yang digunakan secara luas untuk menampilkan halaman web. HTML saat ini merupakan standar Internet yang didefinisikan dan dikendalikan penggunaannya oleh World Wide Web Consortium (W3C)

Versi terakhir dari HTML adalah HTML 4.01, meskipun saat ini telah berkembang XHTML yang merupakan pengembangan dari HTML.

HTML berupa kode-kode tag yang menginstruksikan browser untuk menghasilkan tampil sesuai dengan yang diinginkan. Sebuah file yang merupakan file HTML dapat dibuka dengan menggunakan browser web seperti Mozilla Firefox atau Microsoft Internet Explorer. HTML juga dapat dikenali oleh aplikasi pembuka email ataupun dari PDA dan program lain yang memiliki kemampuan browser.

Secara garis besar, terdapat 4 jenis elemen dari HTML:

  • Structural. Tanda yang menentukan level atau tingkat dari sebuah teks.
  • Presentational. Tanda yang menentukan tampilan dari sebuah teks tidak peduli dengan level dari teks tersebut.
  • Hypertext. Tanda yang menunjukkan pranala ke bagian dari dokumen tersebut atau pranal ke dokumen lain.
  • Elemen widget yang membuat objek-objek lain.

Teknologi Geospasial untuk Sektor Pertanian(4)







Oleh:Dr Wiske Rotinsulu SP MES PhD





Teknologi Geospasial. Geospasial dapat didefinisikan sebagai data/informasi tentang posisi, objek dan hubungannya di ruang bumi. Dalam tulisan ini, teknologi geospasial merujuk ke metode penginderaan jauh dan sistem informasi geografis.

Citra yang diambil di pertengahan tahap pengisian biji merupakan sa-at terbaik untuk memprediksi hasil panen karena diperoleh adanya korelasi terbaik antara IV dengan hasil panen. Hasil yang sama juga ditemukan oleh Yang et al. (2004) pada tanaman sorgum.
Sistem Informasi Geografis
SIG merupakan seperangkat alat yang bermanfaat untuk mengum-pulkan, menyimpan, memanggil kembali, mentransformasikan dan menayangkan data spasial bumi (Burrough, 1998). SIG membutuh-kan masukan data yang bersifat spasial maupun deskriptif. Bebera-pa sumber data tersebut antara la-in adalah: data penginderaan ja-uh, peta analog, hasil survey dan data yang direkam oleh GPS. Ke-mampuan SIG dalam menganalisis data spasial dan memvisualisasi-kan data tersebut inilah yang membedakan SIG dengan sistem informasi lainnya.
Aplikasi SIG dalam pengelolaan sumber daya alam meliputi berba-gai aspek. Aplikasi SIG di bidang pertanian misalnya untuk prediksi produksi tanaman, pemetaan per-wilayahan komoditi dan identifi-kasi penyebaran pupuk. Di bidang kehutanan, untuk pemetaan hu-tan, evaluasi lahan kritis, perenca-naan penebangan pohon untuk industri hutan, perencanaan refo-restasi, dan visualisasi bentangan lahan. Untuk konservasi, SIG digu-nakan untuk pemetaan habitat flora dan fauna dan perencanaan kawasan konservasi. Penelitian ya-ng dilakukan oleh Rotinsulu (2006) memperlihatkan kegunaan tekno-logi penginderaan jauh dan SIG da-lam permodelan distribusi spasial flora palem Sulawesi.
Modeling produksi tanaman me-rupakan salah satu contoh aplikasi SIG di bidang pertanian yang akan di uraikan lebih lanjut dalam tuli-san ini. Permodelan dengan meng-gunakan SIG menawarkan suatu mekanisme yang mengintegrasi-kan berbagai jenis data (biofisik) yang dikembangkan atau diguna-kan dalam penelitian pertanian. Monitoring kondisi tanaman perta-nian sepanjang musim tanaman serta prediksi potensi hasil panen berperan penting dalam mengana-lisis produksi musiman. Informasi hasil panen yang akurat dan terki-ni sangat dibutuhkan oleh depar-temen pertanian berbagai negara.
Integrasi Penginderaan Ja-uh dan SIG untuk Prediksi Hasil Pertanian
Integrasi data satelit dan model produktivitas tanaman merupakan metode analisis kuantitatif yang penting untuk menduga hasil pa-nen pada skala lokal dan regional. Data penginderaan jauh praktis di-gunakan untuk permodelan tana-man dengan kondisi kanopi yang selalu dinamis berubah dalam waktu dan ruang.
Sebelumnya telah diuraikan me-tode pendugaan hasil tanaman ya-ng dilakukan berdasarkan data sa-telit dengan menggunakan indika-tor biomassa tanaman dan IV. Wa-laupun pendekatan IV dapat dika-takan sederhana, hubungan anta-ra IV dengan hasil dapat dikatakan bersifat lokal dan sensitif terhadap terhadap tanah dan kondisi atmos-fer. Untuk prediksi hasil pertanian pada berbagai kondisi, dibutuhkan parameter lainnya yang dapat menjelaskan mekanisme fisiolo-gis/biologis yang mengontrol per-tumbuhan dan perkembangan ta-naman (Moulin, et al., 1998). Oleh karena itu dibutuhkan model-mo-del mekanistis yang mampu me-ngintegrasikan berbagai parameter (biofisik tanaman, tanah, iklim dan sistem budidaya) yang mempenga-ruhi produksi tanaman. Beberapa model tanaman seperti halnya En-vironmental Policy Integrated Cli-mate (EPIC) (Easterling et al.,1998; Izaurralde et al., 2003) dan FAO model: Specific Water Balance (CS-WB) (Reynolds et al., 2000) telah diintegrasikan dengan SIG untuk menghasilkan model tanaman spasial yang kemudian diintegrasi-kan data penginderaan jauh yang terkini berhasil mensimulasi hasil produksi tanaman secara efisien dalam skala regional
Modeling agroekosistem berbasis SIG merupakan metode powerful di mana dapat membantu pengelo-la/pengambil keputusan di bidang pertanian untuk menganalisis se-cara langsung bukan hanya penga-ruh lingkungan biofisik terhadap produksi tanaman tetapi juga me-nganalisis pengaruh sistem budi-daya terhadap hasil panen.
Implikasi Pemanfaatan Tek-nologi Geospasial bagi Pem-bangunan Pertanian Sula-wesi Utara
Program Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang dicanangkan pemerintah provinsi Sulawesi Utara sebagai strategi mengurangi kemiskinan dan pe-ngangguran, secara jelas telah me-nempatkan pertanian sebagai sa-lah satu sektor unggulan pemba-ngunan. Perbaikan mutu, kuanti-tas dan kontinuitas produk perta-nian merupakan target yang harus dicapai sebagai salah satu indika-tor keberhasilan program tersebut.
Tantangan yang dihadapi dalam upaya mencapai target di atas di antaranya musim panas yang ber-kepanjangan (kekeringan), berku-rangnya kesuburan tanah, sera-ngan hama dan penyakit serta gul-ma. Dari uraian sebelumnya jelas terlihat bagaimana potensi tekno-logi penginderaan jauh dalam men-deteksi kondisi biofisik tanaman, tanah, bahkan memberikan infor-masi cuaca (satelit cuaca) yang ce-pat, murah, detail dan up-to-date. Selain itu, prediksi hasil panen un-tuk skala lokal dapat diperoleh langsung lewat data penginderaan jauh. Walaupun untuk prediksi hasil pada skala yang lebih luas (regional), dibutuhkan adanya integrasi dengan SIG karena me-nggunakan parameter yang lebih kompleks.
Adopsi teknologi geospasial me-rupakan salah satu management option dalam mencapai keberhasi-lan program revitalisasi bidang per-tanian. Dari uraian di atas, jelas terlihat potensi pemanfaatan data penginderaan jauh dan SIG di bi-dang pertanian contohnya untuk memantau pertumbuhan dan pre-diksi hasil panen. Data penginde-raan jauh yang di integrasikan de-ngan GIS berperan penting dalam perencanaan dan pengelolaan sumberdaya pertanian di mana akan menghasilkan keputusan/kebijakan yang lebih realistik dan akurat.(habis)

Penulis meraih gelar S3 di University of Newcastle, Inggris di bidang Permodelan Lingkungan.
Tulisan ini dibawakan sebagai pidato ilmiah dalam rangka Dies Natalis Fakultas Pertanian,
Unsrat Manado.

DEFINISI GIS



Geographic Information System merupakan integrasi antara perangkat keras, perangkat lunak, dan data untuk menangkap, mengatur, menganalisa, dan menampilkan semua bentuk geografi yang memberikan informasi.



Dengan GIS kita bias melihat, memahami, bertanya, menterjemahkan dan menampilkan data dengan banyak cara seperti relationaship, simbol-simbol, dan trend dalam bentuk peta, laporan atau grafik. GIS membantu menyelesaikan permasalahan dengan mengacu pada data yang ada sehingga menjadi mudah dipahami dan dibagi satu sama lain. Teknologi GIS juga bisa di gabungkan dengan framework system infromasi enterprice.http://dennycharter.wordpress.com/2008/05/12/gis-definisi/
manfaat gis dalam kehutanan
Informasi lokasi atau informasi spasial. Contoh yangumum adalah informasi lintang dan bujur, termasukdiantaranya informasi datum dan proyeksi. Contoh laindari informasi spasial yang bisa digunakan untukmengidentifikasikan lokasi misalnya adalah KodePos.• Informasi deskriptif (atribut) atau informasi nonspasial. Suatu lokalitas bisa mempunyai beberapaatribut atau properti yang berkaitan dengannya;contohnya jenis vegetasi, populasi, pendapatan pertahun, dsb.sedangkan untuk Sistem Koordinat yang akan kami pergunakan dapat dijelaskan sebagai informasi lokasi yang ditentukan berdasarkan sistem koordinat peta yang mencakup datum dan proyeksi data.Sedangkan sistem proyeksi peta adalah sistem yang dirancang untuk merepresentasikan permukaan dari suatu bidang lengkung atau spheroid(misalnya bumi) pada suatu bidang datar. Proses representasi ini menyebabkan distorsi yang perlu diperhitungkan untuk memperoleh ketelitian beberapamacam properti, seperti jarak, sudut, atau luasan.
http://graphicdesainertobe.blogspot.com/2009/03/rancangan-aplikasi-gis-untuk_6056.html